Berawal dari sebuah tayangan video yang dishare di timeline facebook seorang sahabat pena sore tadi, aku tertarik untuk membahasnya di sini.
Link video bisa dilihat di sini untuk cerita selengkapnya:
Video yang berjudul "Ternyata Suamiku Tak Mencintaiku Lagi" tersebut dibawakan dengan apik oleh Oki Setiana Dewi sebagai narator. Oki dengan nada, ekspresi dan mimik sempurna mampu membawa pendengarnya untuk turut merasakan perasaan tokoh Rima sebagai tokoh aku sekaligus tokoh utama dalam cerita tersebut.
Cerita ini berpusat pada tiga tokoh utama yaitu, Rima, Mario (Suami Rima) dan Meisya. Singkat cerita, sepanjang perjalanan rumah tangga Rima dan Mario, Mario tidak mencintai Rima. Ia masih memendam cintanya untuk Meisya, seorang teman lamanya. Sampai, suatu hari, di kantornya, Mario kembali bertemu dengan cinta lamanya. Sejak pertemuannya dengan Meisya, justru Mario memperlakukan Rima dengan baik dan romantis. Rima belum menyadari situasi-kondisinya rumah tangganya saat itu.
Hingga, suatu ketika, suaminya sakit dan masuk rumah sakit. Di titik ini, ia mulai melihat kehadiran Meisya sebagai "perempuan lain". Ia menyadari tatapan suaminya kepada Meisya. Itu tatapan cinta, tatapan yang tidak pernah ia dapatkan selama pernikahannya dengan Mario. Puncak kesadarannya adalah ketika Mario lebih memilih disuapi Meisya ketika Rima berusaha menyuapinya. Meisya sendiri telah berkeluarga dan pernah mejenguk Mario bersama suami dan anaknya.
Kesakitan Rima bertambah-tambah ketika mengetahui Mario kerap mengirim email kepada Meisya dan mengutarakan perasaan yang dipendamnya. Kemudian, berdasarkan cerita, dari email selanjutnya yang dikirimkan oleh Mario, Mario mengatakan pada Meisya bahwa ia telah memperlakukan Rima dengan baik seperti yang dipinta Meisya.
Kian hancurlah hati Rima. Tapi, ia memilih untuk tetap tinggal di sisi Mario dan berubah lebih baik lagi untuk memperjuangkan cintanya. Ia memenangkan hati Mario, suaminya. Mario mengatakan pada Meisya, bahwa ia mulai jatuh cinta pada Rima.
Namun... ketika cinta mulai datang menghinggapi hatinya, kecelakaan merenggut nyawa Rima. Endingnya.... bisa ditebak. Penyesalan di hati Mario.
--------------
Sekarang, mari bicara tentang pemikiran dan perasaan dari setiap tokohnya.
Pertama, bicara tentang pemikiran dan perasaan Mario, aku tidak membenarkan perselingkuhan yang dilakukan Mario. Meskipun tidak terjadi kontak fisik, perselingkuhan pikiran dan perasaan tetaplah perselingkuhan. Tapi, cobalah telisik perasaannya.
Andai saja, narator tidak membuatnya dipertemukan dengan Rima, ia akan terus berjuang memendam perasaannya agar tidak menyakiti orang yang mencintainya. Berpura-pura mencintai orang yang tidak kita cintai sama lelahnya dengan mencintai orang yang tidak mencintai kita. Di tengah perasaannya yang demikian kacau, ia tetap MEMILIH menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga meski belum bisa memberikan hatinya untuk Rima.
Ketika bertemu Meisya pun Mario MEMILIH bersetia dan bertanggung dengan ikatan pernikahannya meski awalnya adalah dorongan dari Meisya yang memintanya agar tetap memperlakukan istrinya dengan baik. Dan pada akhirnya, Mario MEMILIH membuka hatinya demi cinta yang memang seharusnya tumbuh untuk Rima (istrinya) sedari awal mereka menikah.
Andai saja, narator tidak membuatnya dipertemukan dengan Rima, ia akan terus berjuang memendam perasaannya agar tidak menyakiti orang yang mencintainya. Berpura-pura mencintai orang yang tidak kita cintai sama lelahnya dengan mencintai orang yang tidak mencintai kita. Di tengah perasaannya yang demikian kacau, ia tetap MEMILIH menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga meski belum bisa memberikan hatinya untuk Rima.
Ketika bertemu Meisya pun Mario MEMILIH bersetia dan bertanggung dengan ikatan pernikahannya meski awalnya adalah dorongan dari Meisya yang memintanya agar tetap memperlakukan istrinya dengan baik. Dan pada akhirnya, Mario MEMILIH membuka hatinya demi cinta yang memang seharusnya tumbuh untuk Rima (istrinya) sedari awal mereka menikah.
Kedua, tentang Meisya. Tokoh ini dihadirkan 'agak sepintasan', tapi menjadi benang merah yang kuat atas sebab-akibat luka hati Rima. Perasaan Meisya kurang dijelaskan secara detail. Tapi, dari perhatian yang ditunjukkan melalui perbuatannya selama menjenguk Mario di rumah sakit, keberaniannya meminta izin pada Rima untuk dirinya menyuapi Mario pula email balasan untuk Mario yang diceritakan lewat penuturan cerita Mario, sudah cukup tergambar bagimana perasaan Meisya.
Meisya sendiri telah mengambil pilihan bijak di situasi-kondisi perasaannya yang lebih rumit dari Mario. Meisya sadar sesadar-sadarnya bagaimana posisinya, posisi Mario dan Rima. Meisya, sadar dirinya adalah kunci yang akan membuat semuanya (rumah tangganya dan rumah tangga Mario) berantakan atau tetap pada tempat yang seharusnya. Meisya MEMILIH untuk membuat semuanya tetap pada tempat yang seharusnya. Meisya meminta Mario tetap tinggal di sisi Rima dan berusaha mencintai Rima.
Ketiga, soal Rima. Tokoh Rima dijadikan sebagai sudut pandang "aku" oleh narator. Rima adalah tokoh yang digambarkan menderita luka hati yang paling parah. Perselingkuhan meremukkan hatinya berkeping-keping. Aku bisa memahami, bagaimana luka itu mengoyak hatinya hingga lumat. Dari ketiga tokoh, bila itu terjadi di lingkaranku, aku pasti akan berdiri untuk Rima, untuk menariknya keluar dari ceruk kesedihan mendalam yang membuat dunianya terasa gelap pada saat itu.
Tapi, kalau menganggap Rima adalah pihak terlemah dari luka yang didapatinya, itu tidak benar. Justru, ia adalah tokoh terkuat yang pada akhirnya mengalahkan tokoh-tokoh yang memberinya luka-luka. Di atas luka-luka itu, Rima MEMILIH untuk lebih kuat berjuang memenangkan suaminya, memenangkan cintanya. Ia tidak meninggalkan suaminya dan percaya bahwa perjuangannya akan membuahkan hasil. Apa yang diyakininya pun terjadi. Suaminya akhirnya mencintainya.
Namun, ketika suaminya telah jatuh cinta pada Rima, kecelakaan justru merenggut nyawa Rima. Kematiannya menyisakan penyesalan dan perasaan bersalah seumur hidup pada suaminya dan Meisya. Meskipun itu bukan merupakan sebuah pembalasan dendam, tapi, bukankah siksaan penyesalan yang diakibatkan setelah Rima tiada lebih mengerikan daripada sebuah perceraian yang bisa saja dipilihnya saat itu? Tak salah bukan, bila kukatakan, justru Rimalah tokoh terkuat diantara ketiganya? Kadang, tokoh yang tampak paling menyedihkan, lemah dan banyak ditangisi orang-orang, justru tokoh tersebut adalah tokoh yang paling kuat.
-----------------
Dari kisah tersebut, yang menjadi titik beratku bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi, semua itu tentang pilihan masing-masing tokoh. Apakah akan tetap mencari "kebenaran" dalam situasi-kondisi yang salah untuk membuat keputusan yang "benar" dan "tepat" atau menjadikannya tetap dalam situasi-kondisi "salah" dan membiarkan keadaan "semakin gelap-kelam".
Tuhan tidak akan mengubah keadaan kaumnya sampai ia sendiri yang mengubahnya, bukan?
Di situlah fungsi sebuah PILIHAN.
V.E.P. 07.07.2018
Meisya sendiri telah mengambil pilihan bijak di situasi-kondisi perasaannya yang lebih rumit dari Mario. Meisya sadar sesadar-sadarnya bagaimana posisinya, posisi Mario dan Rima. Meisya, sadar dirinya adalah kunci yang akan membuat semuanya (rumah tangganya dan rumah tangga Mario) berantakan atau tetap pada tempat yang seharusnya. Meisya MEMILIH untuk membuat semuanya tetap pada tempat yang seharusnya. Meisya meminta Mario tetap tinggal di sisi Rima dan berusaha mencintai Rima.
Ketiga, soal Rima. Tokoh Rima dijadikan sebagai sudut pandang "aku" oleh narator. Rima adalah tokoh yang digambarkan menderita luka hati yang paling parah. Perselingkuhan meremukkan hatinya berkeping-keping. Aku bisa memahami, bagaimana luka itu mengoyak hatinya hingga lumat. Dari ketiga tokoh, bila itu terjadi di lingkaranku, aku pasti akan berdiri untuk Rima, untuk menariknya keluar dari ceruk kesedihan mendalam yang membuat dunianya terasa gelap pada saat itu.
Tapi, kalau menganggap Rima adalah pihak terlemah dari luka yang didapatinya, itu tidak benar. Justru, ia adalah tokoh terkuat yang pada akhirnya mengalahkan tokoh-tokoh yang memberinya luka-luka. Di atas luka-luka itu, Rima MEMILIH untuk lebih kuat berjuang memenangkan suaminya, memenangkan cintanya. Ia tidak meninggalkan suaminya dan percaya bahwa perjuangannya akan membuahkan hasil. Apa yang diyakininya pun terjadi. Suaminya akhirnya mencintainya.
Namun, ketika suaminya telah jatuh cinta pada Rima, kecelakaan justru merenggut nyawa Rima. Kematiannya menyisakan penyesalan dan perasaan bersalah seumur hidup pada suaminya dan Meisya. Meskipun itu bukan merupakan sebuah pembalasan dendam, tapi, bukankah siksaan penyesalan yang diakibatkan setelah Rima tiada lebih mengerikan daripada sebuah perceraian yang bisa saja dipilihnya saat itu? Tak salah bukan, bila kukatakan, justru Rimalah tokoh terkuat diantara ketiganya? Kadang, tokoh yang tampak paling menyedihkan, lemah dan banyak ditangisi orang-orang, justru tokoh tersebut adalah tokoh yang paling kuat.
-----------------
Dari kisah tersebut, yang menjadi titik beratku bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi, semua itu tentang pilihan masing-masing tokoh. Apakah akan tetap mencari "kebenaran" dalam situasi-kondisi yang salah untuk membuat keputusan yang "benar" dan "tepat" atau menjadikannya tetap dalam situasi-kondisi "salah" dan membiarkan keadaan "semakin gelap-kelam".
Tuhan tidak akan mengubah keadaan kaumnya sampai ia sendiri yang mengubahnya, bukan?
Di situlah fungsi sebuah PILIHAN.
V.E.P. 07.07.2018


Ih wow, daebak. Hahaha.. Aku bahkan gak bisa menangkap sedetail ini. Hihihi... Salut.
BalasHapus