Senin, 02 Juli 2018

#2. Arti Sebuah Tim Kerja


Inilah kami. Ikatan kami tercipta dan bermula di sebuah tempat. Dari masa-masa sulit yang harus ditaklukan bersama.
Bertemu kembali dengan mereka, membuat ingatanku menapak-tilasi pertemuan kami serta perjalanan dan perjuangan-perjuangan yang telah kulalui di tempat itu. 

Aku memulai semuanya dari nol. Terus bertahan dengan segala tekanan dan tantangan yang harus kutaklukan di setiap episodenya selama 3,5 tahun hingga akhirnya aku berada di titik puncak. Puncak tertinggi dalam struktur organisasi lembaga sekaligus puncak pikulan tanggung jawab terberat. Saat itu, bagiku, titik puncak adalah episode terumit yang pernah kualami. Episode ini, menguras segalanya: tenaga, pikiran dan emosi. Lebih dari sebelumnya. 

Dari titik puncak, jangkauan lingkar mataku jauh lebih luas dari sebelumnya. Aku melihat apa yang sebelumnya tak terlihat. Aku merasakan apa yang sebelumnya tak kurasakan.

Saat aku memandang ke bawah, aku melihat perjalanan orang-orang di bawahku untuk mengingatkan diriku sendiri dari titik mana kubermula. Kadang, kakiku gemetar melihat ketinggian jarak antara titik awal dengan titik yang kupijaki waktu itu. Ketinggian membersitkan ketakutan akan terjatuh akibat kesalahanku sendiri. Pula, kadang, dengan memandang ke bawah keberanianku muncul. Orang-orang dalam barisanku, yang berada di bawah dan tengah berjuang, mereka menyadarkanku, ada orang-orang yang harus kulindungi. Ada tangan yang harus terus kuulurkan untuk menarik mereka berada di puncak bersama-sama. Ada lentera yang harus terus kunyalakan saat mereka berada dalam gelap dan membutuhkan cahaya untuk tetap sampai ke puncak.

Saat aku menengadah ke atas, kadang langit menyuguhkan terik sinar matahari yang kutantang dengan pandangan mata memincing karena menahan silaunya. Kadang langit memamerkan jingga yang hangat, yang membuat tatapan mataku lebih lembut dan bersahabat pada matahari. Kadang langit menyuguhkan kegelapan, tanpa matahari, yang memaksaku menajamkan mata batin dan mencari cahaya dari dalam diriku agar aku sendiri tak kehilangan arah dan tetap bisa menjadi lentera yang bisa terlihat dari bawah.

Saat mataku mengarah lurus ke depan dengan perputaran pandang melingkar 360 derajat, aku mendapati langit biru dan gelap dalam satu hari bersamaan. Saat itu, aku hanya melihat diriku. Sendirian. Berdiri di titik itu, dengan segala pemikiran dan perasaan yang berkecamuk di tengah kepelikan masalah yang terjadi baik di atas maupun di bawah. Kepelikan masalah yang harus bisa kutangani. Kepelikan masalah yang menguji keandalan diriku sendiri.

Lalu, waktu pun terus bergulir. Akhirnya, di titik puncak, aku hanya sanggup bertahan 1,5 tahun. Matahari sudah terlampau terik. Mataku tak sekuat dulu untuk menantangnya. Pada akhirnya, aku menyerah untuk tak lagi melawan matahari yang berada di atasku. Dan punggungku sudah terlalu payah untuk lebih lama memikul semuanya sendirian.

Aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan puncak. Meninggalkan atap yang telah 4,5 tahun menaungiku.

Episode ini, menjadi episode terberat. Bukan karena aku sedih harus meninggalkan titik puncak. Sedari awal aku berdiri di titik puncak, saat memandang lurus ke depan, saat yang kulihat hanya diriku sendiri, aku telah memahami bahwa puncak adalah tempat sementara untuk melihat surga-neraka dunia juga untuk mencecapi madu-racun kehidupan. Yang kurasakan di titik itu, persis seperti gambaran dan pengetahuan yang sebelumnya telah tertanam dalam kepalaku. 

Saat pandanganku lurus ke depan, aku berkata pada diriku sendiri bahwa ada waktunya, manusia berada di puncak. Pula ada waktunya, harus menuruni puncak itu untuk memulai kembali perjalanan dan babak baru dalam hidup. Itu hukum keseimbangan alam. Perputaran roda kehidupan. Dan aku, tak takut untuk kembali memulai perjalanan baru dari awal.

Episode ini, menjadi episode terberat karena semuanya akan menjelma kenangan yang menyisakan rasa kehilangan terhadap orang-orang yang hidup di dalam kenangan tersebut.

Saat itu, segala peristiwa dan orang-orang berlintasan di kepalaku.

Anggota tim terbaikku.
Anak-anak.
Orang tua murid.
Lembaga ini.

Bila dulu aku diam-diam menangisi orang-orang yang lebih dulu pergi, maka pada waktu itu, aku menangisi orang-orang yang akan kutinggalkan. Rekan kerja rasa keluarga, orang tua murid rasa saudara, dan murid-murid rasa adik atau anak sendiri.

Anggota timku...
Mereka, orang-orang yang mau berjuang menghadapi tantangan ketika kuamanahi sebuah tanggung jawab. 
Mereka, orang-orang yang mau menyambut uluran tanganku ketika tersaruk jatuh di tengah perjalanan menuju puncak. 
Mereka, orang-orang yang menggenggam tanganku untuk meyakinkan bahwa mereka berada di sampingku untuk mencapai tujuan bersama. 
Mereka, orang-orang yang tetap memahami diriku ketika ada suatu ketegasan dariku yang harus mereka terima dengan susah payah pada awalnya. 
Mereka, orang-orang yang sama-sama memiliki tekad untuk memenangkan masa-masa sulit bersama.

Kami. 

The great team who had ever exist in there and made the place be a great home for all peoples whose live within.

Anak-anak...
Mereka takdir terindah, kebahagiaan terbesar dan pembelajaran hidup yang sangat berharga bagiku.

Orang tua murid...
Mereka adalah mitra terbaik, yang memberikan ladang pembelajaran bagi kami melalui anak-anak mereka.

Lembaga itu...
adalah tempat terbaik yang mempertemukan kami semua. Yang kami kelola bersama dengan melibatkan kerjasama seluruh elemen.

*

Tiba saatnya aku pergi.

Beberapa orang pun mengambil keputusan yang sama.

Lantas, perpisahan antar kami akhirnya melahirkan sengguk dan isak tangis di antara kami. Sengguk dan isak tangis yang kupahami alasannya, yang telah kurasakan lebih dulu jauh sebelum mereka merasakannya.

Delapan orang pergi dengan kesedihan dan pikiran yang sama. Bagaimana anak-anak dan anggota tim yang tersisa (yang masih terikat perjanjian) setelah ini. Kami hanya bisa terus memberikan dukungan dan kekuatan untuk mereka bertahan semampu yang mereka bisa.

Kami, yang akhirnya memilih pergi, merapal harapan dalam doa semoga semuanya tetap bisa berjalan dengan baik-baik saja. Dan dalam bisik batinku, dengan setitik rasa bersalah, aku berharap, semoga bukan sebab pilihanku yang menjadi pemicu utama keputusan serupa yang mereka ambil untuk tidak melanjutkan perjuangan mereka di tempat itu.

*

Segala yang kukerahkan dari diri ini, baik tenaga, pikiran dan emosi untuk membangun sebuah tim ketika berada di tempat itu... kurasakan hasilnya justru lebih mengharukan setelah kami tidak berada dalam satu naungan yang sama lagi. Sudut pandang dan cara yang kugunakan tentang makna sebuah tim kerja, setidaknya, memberikan dampak yang baik untuk kami.

Pandangan yang kutuliskan sebelumnya di sini:
https://vinnyerikaputri.blogspot.com/2017/01/arti-sebuah-tim-kerja.html

Dulu aku berusaha selalu menciptakan sebuah tim dengan banyak warna dalam satu kanvas: kusebut dan kuperlakukan mereka sebagai rekan kerja, teman main, teman menggila, keluarga kedua, kakak, adik atau apapun yang mengikat hubungan antar individunya.

Sekarang? Kami bukan lagi rekan kerja. Tapi, kami tetap menjadi teman main, teman menggila, keluarga kedua, kakak, adik yang tetap "gila" ketika kami bisa berkumpul kembali di sela-sela kesibukan masing-masing.

Hubungan kami, baik antara yang memilih pergi ataupun dengan yang tetap bertahan, masih berjalan baik.

*

Pada Sabtu, hari dimana kita bisa berkumpul dengan bahagia, aku berterima kasih pada-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu kembali, berbagi cerita dan tetap saling menguatkan.

Aku berterima kasih pada kalian, yang bisa menerima diriku apa adanya, sepaket dengan kelemahan dan kekuatanku serta kegilaan-kegilaanku. Kegilaan-kegilaanku yang kulakukan semasa kita bersama agar kita tetap waras saat pekerjaan dan tanggung jawab begitu menekan kita. Kegilaan-kegilaan yang kulakukan agar kita tetap bahagia dan mengikat kekompakan tim.

Juga aku berterima kasih, pada sebuah tempat yang pernah menaungi kita dalam atap yang sama.
Ikatan kami tercipta dan bermula di sebuah tempat. Dari masa-masa sulit yang harus ditaklukan bersama.


-V.E.P, Memori 30.06.2018

0 komentar:

Posting Komentar