“Kau langit. Aku bumi. Bagaimana kita bisa menyatu?”
*
Kau menuruni anak tangga. Derap langkahmu terdengar bergegas. Dalam sekejap, kau telah berdiri di hadapanku.
“Ayo, Kak. Aku tak ingin terlambat ke sekolah di hari pertamaku mengenakan seragam ini,” tukasmu.
Kau berlari menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Dengan tergopoh-gopoh, ibuku menitipkan bekal untukmu sebelum aku menyusul masuk ke dalam mobil. Sesudahnya, mobil yang dikendarai ayahku melesat keluar membelah jalanan.
Sepanjang mobil melaju, kau banyak bertanya pada ayahmu soal perasaannya ketika pertama kali mengenakan seragam putih abu-abu. Padahal, semalam kau telah bertanya padaku soal hal yang sama. Aku tahu. Kau menggunakan pertanyaan itu sebagai cara untuk menarik perhatian ayahmu. Sayangnya, ayahmu hanya menjawab pendek-pendek segala pertanyaanmu. Ia lebih fokus dengan smartphone di genggamannya. Mungkin, ia tengah berurusan dengan klien-kliennya. Sampai akhirnya, kau bosan dengan sendirinya karena rasa antusiasmu ditanggapi sekadarnya.
Kau melirikku yang duduk di sampingmu, dan berkata, “Sekarang, aku adik kelasmu. Seperti biasa bukan, aku selalu bisa menyaingimu! Selalu!”
Aku tersenyum. Setelahnya, kau mengalihkan pandang ke jendela kaca mobil. Kita terdiam hingga mobil tiba di sebuah pintu gerbang sekolah. Dan usai kita berpamitan, ayahmu berpesan padaku seperti tiga tahun silam ketika kau pertama kali bersekolah di sekolah yang sama denganku. Ayahmu memintaku untuk menjagamu. Lalu, mobil melaju meninggalkan gerbang sekolah.
*
Kau menjalani hari-harimu seperti biasa. Kau masih seperti gadis yang kukenal. Kau tak pernah kehilangan prestasimu. Katamu, kau akan selalu berprestasi sepertiku agar ayahmu bangga padamu.
Hingga di suatu malam, kau mendatangi kamarku. Kau bertanya padaku bagaimana rasanya jatuh cinta.
Aku terperangah. Tak tahu harus menjawab apa. Sebab, aku sendiri belum pernah merasakannya. Aku terlalu sibuk mencapai prestasi demi prestasi dan segala impian yang masuk dalam daftar catatanku. Aku tak sepertimu yang hidup serba berkecukupan. Aku harus berjuang untuk hidupku. Sejauh ini, aku sudah sangat bersyukur tumbuh di lingkunganmu karena kemurahan-Nya. Seorang anak supir dan pembantu rumah tangga yang hidupnya begitu dipelihara oleh-Nya melalui tangan orang tuamu.
“Hei, bagaimana rasanya, Kak?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
“Kakak tidak tahu.”
“Hhhhhh..., jelas kakak tidak tahu. Kakak tidak pernah mau berdekatan dengan perempuan selain adikmu ini,” ledekmu. “di sini, rasanya ada yang berdetak lebih cepat kalau aku berpapasan dengannya, Kak,” lanjutmu sembari menunjuk dadamu.
Aku tertawa, lantas menatapmu dan berucap sembari mengacak-ngacak rambutmu, “Kau ini, ada-ada saja. Kakak tidak mengerti perasaan seperti itu. Sudah sana, kakak mau belajar untuk persiapan presentasi makalah besok.”
Kau sedikit kecewa. Mungkin, karena aku memangkas banyak hal yang ingin kau ceritakan. Ah, baru kusadari. Waktu telah jauh berjalan melewati masa demi masa. Kau kini tengah beranjak dewasa. Kau bukan lagi anak kecil yang selalu merengek meminta es krim ketika ayahmu memarahimu. Kau juga bukan lagi anak kecil yang kerap memintaku menggendongmu di punggungku saat kakimu terluka atau ketika keisengan teman-temanmu membuatmu menangis.
*
Sudah nyaris setahun kita jarang melewati malam dengan perbincangan atau tingkah usilmu. Semenjak kau menjalin hubungan dengan lelaki itu, aku hanya bisa berdiri di luar pintu duniamu. Meski begitu, sampai kini, aku masih kukuh memegang janji untuk tetap menjagamu.
Malam itu, setelah sekian lama kita tak mengisi waktu dengan perbincangan, kau datang mengetuk kamarku dan melongokkan kepala sebelum aku membuka pintu. “Kakak sibukkah? Ah, harusnya tak usah kutanya. Kakak memang selalu sibuk setahun terakhir ini. Sama seperti sibuknya ayah yang hanya punya sedikit waktu untukku sepanjang usiaku,” tandasmu.
Aku tersenyum dan menyuruhmu masuk. Kau berjalan menuju pembaringanku. Lalu diam mematung. Kudapati matamu tampak sembab.
“Kau pasti tahu, ayahmu berjuang demi membuatmu serba berkecukupan dan berkemudahan dalam segala hal. Dan rasanya, kakak tidak perlu jelaskan soal rasa syukur padamu yang sudah sedewasa ini. Setahun ini, maafkan kakak yang terlalu sibuk. Kakak harus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan dengan sebaik-baiknya. Kakak juga ingin mencari universitas yang sesuai minat kakak lewat jalur beasiswa. Kakak tak ingin lagi bergantung pada kedua orang tua dan bantuan dari ayahmu. Kakak ingin benar-benar mandiri. Lagipula...”
“Apa?”
“Kau kan sudah punya si-,” kalimatku terpenggal. Kau melempariku dengan bantal.
“Sudahlah. Tak usah sebut lagi dia. Semua berakhir. Sejak dia memilih berkhianat,” ucapmu dengan nada sengit. “Kak..., aku ingin tidur di kamarmu,” lanjutmu.
“Haaa?” Aku terperanjat mendengar permintaanmu.
“AKU INGIN TIDUR DI KAMARMU. TITIK!” paksamu.
Kau menatapku. Matamu berkaca-kaca. Sengguk tetas bersamaan tertunduknya kepalamu.
“Boleh ya..., Kak,” nada suaramu melemah.
Aku terdiam. Seharusnya mulutku berkata tidak. Sebab, sekarang, kita bukanlah dua anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Aku pria dewasa yang dalam dadanya tersembuyi hasrat. Dan aku juga bukan kakak kandungmu. Tak ada darah yang sama mengaliri tubuh kita. Tapi, melihatmu begini, mendadak mulutku tidak bisa mengatakan tidak.
“Syaratnya, kau harus segera tidur. Ada banyak tugas yang harus kakak kerjakan. Kita bisa mengobrol lain waktu saat hatimu sudah sedikit lebih tenang.”
Kau mengangguk. Lalu, merebahkan diri di pembaringan. Kutarik selimut menutupi tubuhmu. Baru saja aku hendak berdiri keluar kamar, tanganmu menahanku.
“Temani aku,” pintamu.
Aku menarik napas panjang, dan berucap, “Iya. Tapi, pintu kamar harus dibuka.”
Kau setuju. Kemudian, kubacakan buku novel kesukaanmu bagai ibu mendongengi anaknya. Setelah kau tertidur, kuletakkan buku novel itu di sampingmu. Lalu, secara naluriah, jemari tanganku membelai lembut kepalamu. Kusibak pula helai-helai rambut yang menutupi pipi halusmu.Wajahmu menjadi jelas terlihat. Wajah gadis dewasa dengan kecantikan alami meski sembab matamu belum juga hilang. Melihatmu terlelap seperti ini, ada perasaan hangat yang perlahan-lahan menjalari dadaku.
Kuusap mata sembabmu. Kemudian, jemari tanganku meliuk turun mengikuti bentuk hidungmu. Dan terakhir, jatuh di bibirmu yang lembut. Sampai di situ, dadaku berdesir. Seiring dada yang berdesir, jemari tanganku gemetar meraba bibirmu. Hasratku kelelakianku menggelegak. Ingin kupendekkan jarak antara bibirku dan bibirmu. Namun, kuat-kuat kutepis.
Aku bangkit meninggalkan kamarku sebelum gejolak ini mendorongku berbuat lebih jauh. Dengan memendam perasaan yang kacau-balau, aku meminta ibuku untuk menemanimu yang tertidur di kamarku. Ibuku sudah menganggapmu bagai anaknya sendiri sejak kau menjadi piatu di usiamu yang baru menginjak 5 tahun.
*
“Seminggu lagi kakak berangkat. Dua bulan lalu, beasiswa yang sudah lama kakak ajukan mendapatkan jawaban. Kakak diterima. Dan... maaf, baru sekarang kakak memberitahumu.”
Matamu membelalak. Lalu, dengan segera kau alihkan pandangan ke luar jendela. Beberapa jenak, kau membisu. Aku menunggu kata-kata keluar dari bibirmu.
“Rasanya... aneh membayangkan hari-hari tanpamu, Kak.”
Aku meneguk liur. Kata ‘aneh’ yang kudengar dari bibirmu membuat hatiku teraduk-aduk. Ada debar tak keruan yang kurasakan. Debar itu debar yang sama seperti saat jemari tanganku merasakan bibir lembutmu.
“Kak..., aku menyayangimu. Sebagai wanita dewasa,” ujarmu lirih.
Kau menatapku dalam-dalam. Aku berkelit dari pandanganmu. Sementara isi dadaku kian meletup-letup. Pembicaraan ini bukan lagi soal kakak dan adik tanpa ikatan darah. Tapi, ini pembicaraan dua orang insan manusia yang telah sama-sama didewasakan oleh waktu dan perasaan. Pembicaraan dua orang insan manusia yang sama-sama baru menyadari perasaan mereka yang sesungguhnya saat jarak bersiap-siap menciptakan ruang rindu.
Kukumpulkan keberanian untuk menatapmu, sembari berkata, “Kau langit. Aku bumi. Bagaimana kita bisa menyatu?”
“Kau takut? Atau kau merasa rendah diri karena strata sosial?”
Pertanyaanmu telak menohokku. Aku kalah. Kuhela napas, mengarahkan pandangan ke luar jendela lalu mengembuskan napas membuang resah.
“Langit akan menjadi tanah ketika menyatu dengan bumi. Ia akan menjadi bagian dari bumi,” balasmu mantap.
Kau menggenggam tanganku. Aku kaku beku. Butuh waktu lama untukku menenangkan isi kepala agar tetap dalam kendali.
“Kalau begitu, perjuangkan segala impianmu. Seperti aku berjuang untuk impian-impianku. Susul aku. Seperti kau selalu menyaingi prestasiku.”
“Pasti,” ucapmu dengan sangat yakin.
Di bawah naungan kemilau senja yang nyaris pudar, meski masa depan terasa begitu entah di kepalaku, kehangatan memenuhi dadaku. Hatiku tak bisa lagi menampik. Aku takkan lagi berlari menghindari perasaan ini. Meski kusadari, perjuangan di depan mata akan semakin terjal berliku.
*
Catatan:


0 komentar:
Posting Komentar