Rabu, 04 Juli 2018

Kau, Wanita Seperti Apa Sebenarnya?



Kau, wanita seperti apa sebenarnya? 
Kau mampu membaca sekelilingmu dengan cepat. Lebih cepat dari pandanganku. Tapi kau juga tidak menyadari, diam-diam aku melihat dan memahami motif tersembunyi yang kau bawa dari setiap tutur kata dan perbuatanmu. Motif yang kadang tidak selalu bisa kuutarakan pada yang orang lain di sekitarmu dan kerapkali kusimpan sendiri.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Kau mampu memaksakan kehendakmu dan membuat orang-orang sekitarmu dengan terpaksa atau tidak acapkali menjadi tunduk kepadamu. Pun sekaligus membuatku diam-diam kukuh meneguhkan diri mengambil cara yang bertentangan denganmu, cara yang tak berempati sama sekali menurutku. Aku memakai caraku sendiri.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Kau seolah mampu merefleksikan apa yang berlintasan dalam pikiranku. Yang sungguh membuatku merasa tak nyaman ketika menyadari bahwa pikiranku kadangkala terbaca olehmu sekaligus melihat ada sepasang mata licik milikmu yang kau sembunyikan untuk menutupi motif sebenarnya dari tindak-tandukmu.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Kau membuatku memasang dinding pembatas setebal-tebalnya dari pandangamu untuk melindungi kehidupanku. Mengapa aku tak ingin kau menelisik kehidupan pribadiku? Mengapa aku enggan sedikit pun membagi perasaan pribadiku lewat cerita-cerita kepadamu? Mengapa aku lebih suka kehidupan pribadiku tetap menjadi rahasia bagimu? Padahal, kau sudah cukup jujur membuka cerita hidupmu.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Mengapa suara-suara dari dalam diriku masih kerap memperingatkanku untuk berhati-hati terhadapmu? Dan suara itu, semakin keras menggema ketika kau berusaha menembus ketebalan lingkar dinding pembatas yang kubuat, di mana seluruh kehidupanku beserta perasaan yang dibawanya tersimpan di sana, pada inti diri yang dinamai hati.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Kau sesekali mampu membuatku berjuang mempertahankan rasa percaya diriku di hadapanmu sekaligus mengaktifkan 'perlindungan otomatis' dari dalam diriku untuk menghadapi tantanganmu yang lebih mirip sebagai ujianmu terhadap kapasitas kemampuanku. Dan kekeras-kepalaanmu, secara tidak langsung kerap membuat diriku yang sama keras kepalanya, mengambil jalan lebih halus: mengalah sementara untuk menang, bukan untuk kalah.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Kau sesekali memberikanku panggung yang bagiku kedengarannya seperti kau ingin 'membaca' apa yang terpancar dari diriku saat di depan panggung. Pun, aku yang lebih sering berada di belakang panggung (dan lebih nyaman dengan posisi itu) berusaha 'membaca' dirimu. Lalu, dalam diam, kubertanya pada diriku, apakah kita tengah 'saling membaca' satu sama lain dan menyimpan hasil pikiran yang kita retas dalam diri masing-masing?

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Mengapa aku tetap memilih berada di titik yang sama tatkala melihatmu meski sudah cukup lama kita bekerja sama dalam satu lingkaran? Aku melihatmu di titik pertengahan. Kau tidak kubenci, tidak juga kukagumi. Tidak kujauhi, juga tak ingin kudekati dan tak kubiarkan mendekatiku melebihi jarak batas yang kutentukan sendiri.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Aku belum menemukan apapun yang bisa meluruhkan dinding pembatas yang kubuat. Waktu yang berjalan pun belum menunjukkan jawaban sebab musabab dari semua itu.

Kau, wanita seperti apa sebenarnya?
Mengapa sedari awal kumelihatmu, kurasakan ada suatu keganjilan melekat pada dirimu yang tak bisa kujelaskan dengan kata apapun?

-V.E.P, 04.07.2018

1 komentar: