Sabtu, 26 Oktober 2013

Kesunyian Kirana



Kirana telah lupa. Bagaimana cinta dan lelaki itu terupa. Sepanjang ia mengenal cinta dan lelaki, hanya getir yang dicecapnya. Hati Kirana memati suri. Pada cinta dan lelaki.
*

Kirana menghentikan kakinya di depan pagar besi. Polesan warna di sekujur pagar mulai pudar dan mengarat. Lama-lama matanya memandang rumah di sebalik pagar. Kepenatan pada kota memulangkan Kirana ke rumah. Rumah yang menjentikkan rindu di hatinya.

Perlahan-lahan, Kirana mulai mengeja kenangan. Isi kepalanya memantulkan Kirana kecil tengah berlarian. Matanya lengah. Aral batu menjatuhkan kakinya. Lutut Kirana kecil mengucurkan darah. Dari bibirnya pecah tangisan. Baru reda setelah sang ibu mendudukkan Kirana kecil di sebuah bangku. Tangan lembut sang ibu mengobati luka Kirana. Dekapan dan senyumnya meredakan lecut kesakitan.

Denting kenangan kian menajam seiring langkah kakinya. Kirana memasuki pekarangan. Kakinya menginjak ilalang yang tumbuh setinggi betis. Beberapa bulan ke belakang, orang yang biasa dititahkannya merawat rumah itu, mengambil langkah mundur.

Kirana berjalan menuju selasar rumah. Didapatinya sebagian cat pada dinding-dinding kusam memucat. Pun kaca-kaca jendela buram berkerak debu. Kirana menyorongkan kunci ke sebuah lubang pada gagang pintu. Pintu ia dorong. Terdengar bunyi menderit. Derit memecah sunyi.

Pintu seolah mengeluhkan, “Aku bosan pada kalian. Dalam satu waktu, keberadaanku hanya untuk didatangi sekaligus ditinggalkan.”

Rumah menyambutnya dengan keheningan dan kotak kenangan lebih banyak. Memasuki ruangan, seluas mata menjala langit-langit, sesawang bergelantungan. Debu-debu tebal melumuri barang-barang. Barang-barang itu tak pernah berpindah tempat. Masih sama seperti bertahun-tahun silam sebelum kepergiannya.

Beberapa kursi kayu teronggok di ruang tamu. Di sini, Kirana kecil kerap mendapati bahu sang ibu berguncang kecil. Sengguk tetas bersama guncangan. Dari balik pintu yang terkuak, mata Kirana kecil mencuatkan kebingungan.

Sebenarnya, sewaktu itu, sang ibu kerap menyetia pada penantian. Menaruh harap pada ketukan pintu. Akan datang sosok lelakinya. Sampai sadarnya membeliak. Harapan kala itu serupa caranya mengkhianati kenyataan. Lelakinya tak pernah menjejakkan kaki di sini.

Jengkal demi jengkal kaki menyeret Kirana ke ruangan lain. Ruangan yang paling memancarkan kilau kebersamaan mereka. Adalah peraduan semasa malam melelapkannya. Pembaringan  berukiran kayu mematung di situ. Kirana membongkar gudang ingatan di kepalanya. Mencari degup kehidupan yang pernah ada.

Masih digenggamnya ingatan. Di pembaringan itu, sebelum lelap meringkusnya, sang ibu kerap mendongeng. Selama sang ibu mendongeng, khayalan negeri antah-berantah menari-nari di kepalanya. Lainnya, senandung ninabobo menyerupai kidung pengantar mimpi. Pula belai tangan sang ibu melarutkan Kirana kecil dalam kantuk.

Tatkala Kirana kecil terbangun di sepertiga malam-Nya, tubuh sang ibu tak tertangkap rabaan tangan. Dengan mata terpincing, Kirana melihat sang ibu tengah menelimpuhi kaki Tuhan dengan kepalanya. Lama. Entah apa yang dijeritkan batinnya. Air asin resap di atas sajadah menimpali sedu sedan.

Di pembaringan ini pula, Kirana kecil kerap mengurai tanya tentang sosok ayah. Lelaki yang dinamai ayah, tak pernah dilihatnya sama sekali.

“Apakah ayah membenciku, Bu?”

“Tidak, Kirana. Ayah tak membencimu.”

“Lalu, mengapa ayah tak pernah ada di sini?”

“Ayah sudah bersama Tuhan.”

“Tuhan mengambil ayah dariku?”

“Ayah memang milik Tuhan, Kirana. Kelak, kita akan menemui Tuhan untuk berjumpa dengan ayah bila saatnya tiba. Sekarang, tidurlah.”

Kirana kecil bungkam. Kebingungan tercipta di kepalanya. Bila ia menanyakan sosok ayah, genangan selalu mengada di mata ibu. Meski bibirnya menarik segaris senyum.
*
Kirana berpeluh keringat. Lesapnya debu dan sesawang menguras habis tenaganya. Letak benda-benda yang belasan tahun silam menghuni rumah itu, tak pernah diubahnya. Kirana tengah mencoba berdamai dengan kenangan. Ia telah beroleh pemahaman. Tentang cara orang-orang melawan kenangan yang menguarkan aroma luka.

Apa yang didapati dari melupakan sebagai cara melawan kenangan? Sia-sia. Nyatanya, waktu tak bisa melapukkannya. Apalagi membunuhnya. Selama jantung masih berdegup, selama kewarasan belumlah tertelan gila, sepanjang itu pula kenangan bernyawa. Utuh terbingkai dalam kepala.

Lelah meremasi persendian. Peluh melengketkan tubuh. Lelah dan peluh mengeluarkan Kirana dari rumah. Kirana berjalan menuju pancuran air terdekat. Tubuhnya perlu dibersihkan dan disegarkan.

Sepanjang kaki mengayun, senyum sapa berhamburan dari bibir-bibir yang ditemuinya. Beberapa dari mereka, berkeingin-tahuan besar tentang kabar Kirana selama di kota. Kirana mendadak seperti tetamu agung yang telah lama dinanti.
*
Panjang bayang-bayang kian memudar. Langit berangsur menghitam selaju tenggelamnya bola merah di ufuk timur. Semburat kemerahan yang melenyap, tersulihkan gelap yang pekat.

Kirana memantik api dari korek gas. Disulutkannya api pada sumbu lilin yang tergeletak di meja. Pijar api lilin menerabas gelap. Menciptakan keremangan. Dalam keremangan, Kirana hanyut meresapi keberadaan cahaya. Cahaya adalah tulang rusuk gelap. Mereka sepasang kekasih.

Cahaya menuntun gelap. Tanpa gelap, cahaya tak terasa cahaya. Terkadang, manusia melupakan keberadaan gelap yang bersembunyi dalam tiap-tiap diri. Sebagian dari mereka merasa bermandikan cahaya. Hingga cahaya yang terlampau silau, menutup mata mereka.

Kirana menjatuhkan diri di pembaringan. Ia menghirup waktu yang telah terketuk palu. Pikirannya mengelana. Menjelajahi tiap-tiap tilas yang basah. Masih tanak di pikirannya. Kali pertama ia bertanya tentang hal yang mengusik gadis seusianya.

“Cinta itu apa, Bu?”

“Cinta itu seperti ibu menyayangimu.”

“Jika cinta itu seperti ibu menyayangiku, seperti ayah menyayangi ibu jugakah?”

Sang ibu mengangguk lemah. Matanya basah. Basah mengilau. Merayap turun di wajah sang ibu. Kirana tak bertanya lagi. Kedua tangannya beranjak melingkari tubuh sang ibu. Erat-erat. Seolah tengah membagi kekuatan dan mengenyahkan duka sang ibu.
*
Kirana bangkit dari rebah. Bosan menyeretnya ke sisi jendela di samping pembaringan. Tangannya mendorong jendela. Seiring jendela terkuak, angin melesak masuk. Menawarkan silir angin pegunungan yang dingin. Binatang-binatang malam mengikrik. Kikrikan mereka laksana katarsis di pelataran sunyi yang kental.

Kirana melayangkan pandang ke arah langit. Bersama jejaring kenangan yang tak jemu menjeratnya. Di jendela ini, Kirana dan sang ibu seringkali menatapi rembulan di dua masa. Semasa lingkar rembulan memurnama langit. Dan semasa rembulan menyabit. Mereka meningkahi waktu dengan bercakap-cakap tentang segala yang bernapaskan kehidupan. Suatu masa, ketika rembulan penuh melingkar, Kirana mencari tahu bagaimana cinta itu terupa.

“Ibu, apakah debar itu serupa cinta?”

“Siapa lelaki yang mengajarimu debar, Nak? Yang pernah kau kenalkan kala itu pada ibu?”

Anggukan Kirana menandai jawaban, “Bagaimana, Bu? Bagaimana caraku menghadapinya?”

Sang ibu terdiam. Sangat lama. Betapa resah menikamnya. Waktu telah meremajakan usia anak gadisnya. Sanggupkah ia gemakan cinta sebagai mawar tanpa duri? Padahal, ia telah merasai leleran darah dari duri-duri mawar. Duri-duri yang pada akhirnya menyisakan luka.

“Kau lihat purnama itu, Nak? Purnama itu dua yang satu. Separuh adalah hatimu, separuh lagi adalah hati yang menggenapinya. Mencintalah.”

Sang ibu berhenti sejenak. Peparunya bergerak naik. Bagai menarik keluar gemuruh dari rongga dadanya. Lalu, membuangnya dengan lepasan embus napas.

“Bila suatu ketika kau dapati lingkar rembulan separuh, tetaplah benderang. Atau jadilah seperti sabit, yang tetap tersenyum kepada langit meskipun langit memberinya pekat kelam.”

“Apakah purnama itu separuh ibu dan separuh ayah?”

“Bukan, Nak. Separuh purnama itu ibu. Separuhnya lagi kau.”

“Mengapa bukan ayah?”

“Hanya napasmu yang masih jelas ibu rasakan. Adanya ibu, dititipkan Sang Kuasa untuk menjagamu.”

“Bila suatu saat aku tak di sini, apa yang akan ibu pandangi?”

“Lengkung sabit.”

“Kalau begitu, kita akan tetap memandangi purnama atau pun sabit di jendela yang sama.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku minta lelakiku membawa serta ibu ke jendela mana pun ia membawaku.”

Sang ibu merengkuh Kirana. Serupa merengkuh harap: tak ditemurunkannya kepahitan. Akan cinta dan lelaki pada Kirana.
*
Dingin udara kian merajam tulang-belulang. Namun, Kirana enggan beranjak dari tepian jendela. Tilas yang basah masih membiusnya. Kali ini, ingatan tentang lelaki pertama yang mengenalinya debar.

Kala itu, Kirana seumpama kertas polos. Sedang lelaki pertama itu tintanya. Dan puisi-puisi yang digoreskan tinta itu merupa cinta. Lelaki pertama amatlah lihai. Ia telah mengenal rupa-rupa perempuan. Dengan sangat elok ia melambungkan hati Kirana pada keindahan.

“Berhati-hatilah, Nak. Sekalipun cinta seumpama puisi yang menebarkan wewangian dan keindahan bunga-bunga, tetaplah mengada padanya kidung yang menyairkan duri.”

Petuah itu petuah sang ibu. Namun, Kirana tetap mabuk cinta. Cinta telah melenakannya panjang-panjang. Lewat lelaki pertama, ia mencari-cari cermin ayah. Pun membentuk sosok lelaki di kepalanya. Lelaki pertama mengajarinya rasa mendamba. Apa yang telah dilakukan lelaki pertama?

Lelaki pertama mempermainkannya. Sedang Kirana terlalu lugu untuk merasai keganjilan. Sampai didapatinya nyata dengan mata kepala. Lelaki pertama tengah mengajari rabaan berujung lenguh menggelinjang. Pada seorang perempuan yang Kirana tak mengenalnya.

Kirana hancur. Hatinya mumur. Barulah ia mencelikkan matanya lebar-lebar. Ia tak mengenali lelakinya benar-benar. Cinta lelakinya sebatas rabaan. Ketika Kirana menggelengkan kepala untuk lekuk tubuhnya dipelajari, lelaki itu mencari perempuan lain sejenis itu.

Setelahnya, sang lelaki meminta jalinan tersambung kembali. Sungguh, terasa musykil dan mustahil bagi Kirana menerima. Kirana tak setunduk itu pada kebodohan. Tuak memabukkan itu telah berganti sembilu yang mengiris-ngiris hatinya. Kirana berjalan meniti waktu. Tertatih. Jatuh bangun.

Belum usai perih luka mengering. Perih baru datang menerjang. Menghempaskan Kirana pada liku yang panjang. Diteguk-paksanya kenyataan, sang ibu kehilangan degup jantung.

Jubelan orang-orang berpakaian serba hitam di tanah pekuburan seakan maklum. Akan usia yang seumpama jam pasir. Suatu waktu, detik yang berbulir akan berhenti mengalir. Sedang bagi Kirana? Menyisakan getir.

Lalu, didapatinya ia menjelma titik di dunia yang terlampau luas. 
Kecil.
Sendiri.
*
Malam kian meninggi. Lelah mengembalikan Kirana ke pembaringan. Namun, lelah tak pernah melelapkannya sungguh-sungguh. Sebab, meski malam membenamkannya pada bunga tidur, harum mimpinya tetaplah airmata. Seperti ketika ia terbangun kali ini. Sealir linang membasahi wajahnya.

Selebar-lebar Kirana membuka mata, didapatinya gelap menyergap. Lilin itu telah habis mengorbankan diri. Tangan Kirana meraba-raba pembaringan. Mencari-cari korek gas untuk menyulut lilin. Duri-duri bunga tidur menjauhkannya dari pembaringan.

Kirana memilih meringkuk di kursi dekat jendela. Aroma suram kenangan kembali menghanyutkannya. Atau seperti yang telah terkatakan sebelumnya. Kirana tengah berdamai dengan kenangan.

Kematian sang ibu melarikan Kirana ke kota rantau. Kota, tempatnya mendulang rupiah. Pula mempertemukannya dengan lelaki kedua. Lelaki kedua adalah lelaki menawan di mata Kirana. Jika lelaki pertamanya berisikan kepala laksana batu dan api. Maka lelaki kedua bagaikan tanah. Tanah mampu menjelma rupa-rupa.

Kala perih memuramkan Kirana, ia menyuguhkan lelucon-lelucon. Kala mata Kirana bertempias, tangan lelaki kedua menjadi tadahnya. Pun mahir mengubah kebosanan menjadi tetawa. Padanya, Kirana merasai debar baru. Berangsur-angsur hatinya kembali memerah jambu.

Di penghujung dua tahun usia jalinan, kegamangan menyapa. Lintas kota, akan menciptakan bentang jarak di antara mereka. Kemudian, batin Kirana menggemakan bermacam tanya.

Apa kuasa jarak terhadap cinta, duhai sang waktu? Mengeratkan jalinan? Atau mencerai-beraikannya?

Tanpa jarak yang panjang, lelaki pertama pandai membagi waktu dengan perempuan lain. Kini, dengan jarak yang membentang? Ah, Kirana memilih membunuh keraguan. Keraguan dibunuhnya dengan satu tebasan. Kepercayaan: lelaki kedua bukanlah lelaki pertama.

Seiring waktu bergulir, betapa bentang jarak menempanya pada penantian. Penantian melahirkan dera rindu. Semasa itu, keberadaan jarak serupa siksaan. Kirana hanya puas dengan suara lelaki kedua dari kejauhan. Lainnya, Kirana sadari bahwa jarak adalah celah bagi godaan bertumbuh liar. Pula membuka ruang dusta selebar-lebarnya.

Setanah-tanahnya lelaki kedua, jiwanya tetaplah lelaki. Yang oleh sebab perempuan, ia tak bisa menghindari api. Ia memerah terbakar. Kobaran api mengepulkan asap. Sangit tercium Kirana.

Rupanya, luka dari lelaki pertama mengasah kepekaan Kirana akan keganjilan. Suara lelaki kedua kian jarang menghalwa di telinga. Sekali ia didapati suara lelaki kedua, bunyinya hanyalah tumpahan serangsang amarah. Cinta lelaki kedua memucat mayat.

Puncak keganjilan tetas. Ketika suara perempuan yang menjadi onak menohok Kirana. Bagaimana dengan lelaki kedua? Lelaki kedua terlalu pengecut untuk sebuah pengakuan. Kejujuran nurani memilih bersembunyi. Ketiak perempuan onak itu tempat lelaki kedua bernaung.

Hati Kirana mengalunkan kidung yang menyairkan duri:

            Betapa... hatiku memar lebam
            Sebab hempasan luka lara
            Sekali empasan, remuk-redam
            Berkali empasan, lumat sempurna
            Kubertanya pada malam yang temaram
            Mengapa harus menoreh cecap luka
            Jika itu sebuah rasa yang mendalam
            Yang orang-orang namai cinta
*
Dari kejauhan, rembulan menyabit di angkasa. Lengkungnya menertawai kehidupan yang tengah lengah dibuai malam. Sinar terangnya bagai parang. Yang seolah ingin menyebat sisi tersembunyi manusia yang masih terjaga di sebalik jendela.

Usai perih tak menawarkan apa-apa selain caranya mengundang airmata, Kirana beranjak menuju lemari pakaian. Ia mengambil kotak yang ditemukannya ketika membersihkan debu-debu dan sesawang. Kotak yang tak terjamah semasa degup sang ibu masih ada.

Kotak itu, persemayaman rupa-rupa kisah. Tentang cinta dan lelaki yang pernah membuat purnama utuh di mata sang ibu. Tentang wewangian, cedayam bunga-bunga hingga mata pisau yang menyayati nadi. Kirana kini tahu. Apa sebab sang ibu menganggap purnama itu separuh dirinya dan separuh Kirana.

Bara merah berkobar di hati Kirana. Meletupkan kemuakan tiada tara. Kirana menyentakkan tanya di tengah gelimang kemuakan, “Dari apa hati lelaki-lelaki itu terupa, Ibu? Ataukah malah tak berhati?”

Dalam Kepala Kirana masih tertanam ingatan. Bagaimana dahulu sang ibu tersenyum saat ia memberondong tentang sosok ayah. Ah, betapa saat itu hatinya memeram reriak pedih. Kepada Kirana, ia membingkai lelakinya dalam potret ketiadaan. Sekalipun nyata, jantung lelakinya masih bedenyut. Nun jauh di sana.

Dari kotak itu, Kirana mereguk duri-duri. Duri-duri itu adalah kenyataan. Yang mengisahkan kidung petaka antara sang ayah dan ibu. Kuasa jarak dan waktu awal mulanya.

Demi mengubah gubuk menjadi dinding berkayu dan berperabot lebih banyak, demi terpenuhinya perut dengan bermacam makanan dan asap dapur tetap mengepul, sang ayah menghamba pada jarak dan waktu. Lantas, di bawah panjangnya kuasa jarak dan waktu, setia tak ubahnya telur di ujung tanduk.

Pada perempuan bergincu merah yang menawarkan ladangnya, ayah Kirana bercocok tanam. Setelahnya, bulan perempuan bergincu merah tak lagi memerah. Benih telah menjadi daging. Kehidupan kota yang gemerlap bersama perempuan bergincu merah, memalingkan ayah Kirana dari sang ibu. Ah, betapa....
*
“Bila suatu ketika kau dapati lingkar rembulan separuh, tetaplah benderang. Atau jadilah seperti sabit, yang tetap tersenyum kepada langit meskipun langit memberinya pekat kelam.”

Tilas suara menggema dari segala arah. Menyerupai dengung tawon. Kirana menjadi paham, mengapa lengkung sabit yang dipilih sang ibu ketika rembulan tak lagi melingkar penuh.

Kirana tercekik sesak. Sesak melahirkan desah. Melentingkan getar di bibir. Lirih terdengar ujar, “Aku merindukanmu, Bu. Adakah telaga cinta lain yang sejernih dirimu? Adakah yang paham tentang cecap luka-luka sedalam engkau memahamiku? Duhai Ibu..., mengapa cinta dan lelaki begitu memuakkan?”

Angin berdesing. Menggetarkan kaca jendela. Tiupannya semakin mengencang. Pucuk pepohonan meliuk-liuk. Dedaunan terputus napas. Tercerabut paksa dari reranting. Memilin, berputar. Melayang-layang. Lalu, jatuh sekehendak angin mendaratkannya.
            Tahukah kau, dedaunan yang melayang-layang?
            Meski angin memisahkanmu dari reranting
            Kau tak akan merasai sunyi panjang menjerang
            Sebab, akan ada tanah yang bersiap menampamu
            Lalu kau, reranting....
            Tahukah kau, wahai reranting?
            Kau tak pernah kehilangan dedaunan
            Dedaunan tak benar-benar pergi
            Dedaunan hanya menyulap diri
            Menjelma humus agar kau tetap berseri
            Bersama dedaunan-dedaunan baru
            Sedang rembulan sabit di angkasa sana?
            Meski bintang-bintang bertabur di sekelilingnya
            Dengan lengkung yang terang menyala
            Rembulan sabit menertawai kesunyiannya sendiri

Sinar rembulan berwujud parang berangsur lindap memudar. Pendar bintang-bintang berganti cahaya bercerambuk petir. Langit bertudung mendung. Kirana memejam mata. Hampa dan kekosongan menjelanak diam-diam.

Pelan-pelan, tanah kering beraroma basah. Lantas, membecek selaju langit mendaraskan hujan. Alam yang tak tertebak di sekarat malam, seolah membahasakan perasaan. Bersama butir-butir air di matanya yang jatuh satu-satu, Kirana lebur dalam kesunyian. Rasanya, Kirana ingin tidur... di pangkuan Tuhan.
*

Penulis : Vinny Erika Putri
*Cerpen ini masuk ke dalam 150 karya cerpen favorit kategori C (Umum/ guru/ mahasiswa) dalam LMCR ROHTO MENTHOLANUM 2013 dari (menurut informasi) 6700 naskah yang masuk.


1 komentar:

  1. apik, mba.
    dengan (banyak) kata yang masih asing. *sempetin buka KBBI coba* ahaha,
    --

    tapi nasib Kirana dan ibunya... ah!
    perihal lelaki, aku tak mau seperti mereka.
    Aamiin.

    BalasHapus