Mereka berbicara banyak tentang Tuhan. Sedang yang satu bungkam terdiam dan hanya menarik segaris senyum ketika menerima satu pertanyaan dari mereka.
Beberapa memincingkan mata dan mengernyitkan alis
dengan keterdiamannya. Sebagian lagi tengah bersiap melesatkan lidah
yang ketajamannya seumpama bilah-bilah pedang.
Entah beberapa
lama 'sang diam' tinggal, mendengarkan perbincangan-perbincangan.
Lantas, 'sang diam' beranjak bangun. Bermaksud menyisakan jejak-jejak
kaki di situ. Kemudian, bibir-bibir yang tak lagi menjadi emas saling
menimpali.
"Lihat dia. Dia bahkan tak tahu mencintai Tuhannya atau tidak." Bibir kesatu berujar.
"Dia telah kehilangan kata-kata untuk melukiskan Tuhannya." Bibir kedua menambahi
"Ha ha ha! Benar. Dia tak sanggup membahasakan Tuhannya sendiri." Bibir ketiga ikut berkicau.
Punggung 'sang diam' yang tadinya telah membelakangi mereka, berputar
balik: berdiri sehadapan. Masih dengan tersenyum. Sang diam akhirnya
merapal kata, "Api sanggup melahap habis kayu bakar lalu menjadikannya
abu. Seperti kesombongan yang memberangus kebaikan. Sedang
kebaikan-kebaikan yang naik ke langit belum tentu menembusi lapis
tertinggi-Nya. Pun pertanggung-jawaban sebuah pengakuan itu tidaklah
ringan. Dan keindahan Tuhan, Sang Pencipta, tak bisa kusentuh
dengan bahasa apa pun. Ia terlalu indah untuk dibahasakan."
Seiring berlalunya tapak kaki 'sang diam', hening bertandang.
-Vinny Erika Putri, 30.01.13
0 komentar:
Posting Komentar