"Suara itu seperti apa, Bun?" tanya Rafi.
Sang bunda terdiam. Memikirkan kata-kata yang bisa mendeskripsikan sesuatu yang tidak bisa didengar anaknya tersebab predikat tuna rungu yang disandang Rafi.
"Suara itu seperti warna, Nak," balas sang bunda.
Mulailah sang bunda mengenalkan aneka macam warna kepada Rafi.
"Oh, ya, Bun... ternyata di dalam laut ada kehidupan, ya? Berarti, putri duyung juga ada?"
Pertanyaan itu muncul karena seringnya Rafi menonton film Ariel The Little Mermaid. Pun sebab sang bunda selalu memberikannya reward berupa ikan setiap ia mau berangkat sekolah. Sang bunda bingung bagaimana menjelaskan bentuk abstrak ke bentuk konkret. Nyatanya, putri duyung itu hanya dongeng. Berulang kali sang bunda katakan bahwa itu semu, tapi Rafi tetap pada khayalannya.
Hingga akhirnya sang bunda berkata, "Ya sudah, coba Rafi gambar di kertas. Putri duyungnya diberikan baju."
Sejak itu, mulailah ia menggambar. Seiring pertumbuhannya, nalarnya pun semakin berkembang, putri duyung yang abstrak perlahan menjadi konkret. Kakinya tidak lagi bersirip dan bersisik. Tapi telah bermetamorfosa sebagai manusia. Ia telah mengenal "bentuk konkret" dari suatu benda. Desain baju-bajunya pun semakin berpola indah. Dengan telaten, sang bunda mengkliping setiap desain yang digambar Rafi. Dari desain itulah Rafi memulai impian.
-Kisah Inspiratif dalam Talkshow Hitam Putih


0 komentar:
Posting Komentar