Selasa, 12 Februari 2013

Untukmu yang Berpulang



Saat itu, rentang jarak dan waktu sangat ingin kupendekkan. Bukan karena ingin menjamu temu untuk menuntaskan dahaga rindu. Tapi menetaskan gelegak hati yang tak keruan. Ibu menggenggam ponsel dengan mata tergenang linang. Suaranya serak. Tertimbun sengguk.

Layar ponsel mati. Lantas berpindah tangan padaku. Setelahnya, bibirku berkomat-kamit merapal doa: kesempatan masih terengkuhi.

"Sudah diputuskan, jam satu. Kami menunggu sampai kalian datang."

Pesan singkat tertera di layar ponsel, mencacah sedikit bongkah-bongkah yang sedari tadi menyumpali dada. Pesan itu bagai asupan oksigen yang membuat kami bisa sedikit bernapas tenang.

Namun, tetap saja jalan terasa panjang. Ibarat tanpa ujung. Sungguh, aku muak pada jarak dan waktu yang melahirkan penantian.

Tiba ketika jarum jam seluruhnya bertengger di angka 12. Pipi ibu kembali basah. Hangat merebak di sepasang bola mata. Terpecah menjadi bulir-bulir yang mengumpul di sudut. Jatuh menetes.

Langkah kakiku mendekati tubuh renta. Serba putih kecuali kepala. Bibirku menyentuh keningnya. Dingin. Tanpa napas. Jala pandangku lekat menatap wajahnya. Bersih. Tersenyum.

Jum'at mubarak. Menunggu hingga para lelaki kembali dari masjid. Setengah jam lamanya. Setelahnya,  iring-iringan perkabungan berjalan. Menabur doa sepanjang langkah.

Lingkar mataku terus menatap keranda di hadapanku. Airmata masih mengalir. Jenazah diturunkan. Adzan menggema di galian berukuran 2m x 1m. Setelahnya, menjadi gundukan bertelekan bunga-bunga. Tangan menanam doa-doa.

Lantas, manusia-manusia pengarak keranda meninggalkan tanah pekuburan. Seiring tapak kaki, kuhirup nanar kamboja dengan kepala mengurai jejaring lelabah. Satu tarikan napas, menghela 26 tahun degup kenangan. Menyisakan pilu kehilangan.

Vinny Erika Putri, Wonosobo, Berpulangnya Simbah Kakung Wonosobo, 090213.

0 komentar:

Posting Komentar