Selasa, 12 Februari 2013

Untukmu yang Ditinggalkan



Tak hanya pagi yang berembun, sepasang bola mataku juga. Di sampingku, simbah putri berkata-kata dalam sengguk kepada ibu. Tangan berkerut keriput menyeka pipi yang basah. Pilu menggeriak di tiga hati. Tiga perempuan.

Tanganku melingkar di punggungnya. Lantas, mengusap-usap kepalanya. Menyentuhi keningnya dengan bibirku. Aku mengutuki jarak dan waktu. Keduanya, mulai pagi ini akan kembali merengkuhi kami. Pula merajakan penantian: 40 hari.

"Mbah, nek sampun 40 dinten, mangkin tinggal ning Cirebon ae. Nek bosen, gantosan teng Malang, ben simbah mboten kesepian. Mbah usah mikirna werna-werna ben sehat awake."

Suara perempuan ibu bercampur serak. Sedang simbah putri hanya membisu. Matanya basah.

"Mbah, Sabtu-Minggu kula prei. Insya Allah, mangkin kula piyambek teng riki malih. Sing sehat-sehat nggih, Mbah."

Lima punggung berlalu. Sepasang kakiku seolah dibanduli beban hitungan kilo. Terasa berat untuk melangkah menjauhi simbah putri.

"Titip simbah ya, Dek Tari," ujar ibu diiringi sedu sedan kepada iparnya.

Berlaksa-laksa kata yang kukumpulkan tercekat di kerongkonan. Pada akhirnya aku hanya menyalami punggung tanggan mereka satu per satu. Lalu, mobil bergerak membelah jalanan. Membentangkan jarak yang kian panjang. Tapi, tidak dengan hati ini. Hati ini tak berjarak untukmu.

*Teruntukmu, Mbah Putri...
Vinny Erika Putri, Wonosobo-Cirebon, 100213.

0 komentar:

Posting Komentar