Mengalami KDRT dari orang tua saat ekonomi keluarga dalam kondisi sulit; terjerumus di lingkaran pertemanan yang membawamu pada kebiasaan mabuk dan narkoba; meninggalkan begitu saja perempuan yang benar-benar menyayangimu di masa-masa sulit itu karena bullying dari teman-temanmu yang melakukan body shaming terhadap kekurangan perempuan tersebut yang akhirnya membuatmu malu memilikinya; sempat merasakan berada dalam bangsal Rumah Sakit Jiwa saat rehabilitasi nafza; dan mungkin banyak lagi hal yang belum kau ceritakan secara utuh.
Sahabat, saat aku mengetahui kisah masa lalumu yang baru kau ceritakan setahun ini, aku sempat mempertanyakan benarkah realita hidupmu sedemikian dramatis atau takdirmu yang memang sungguhan gila?
Jika itu tidak benar, aku tak akan berpikir dan bertanya lebih jauh lagi. Tapi, oleh sebab aku cukup mengenalmu saat kita berada di satu grup kepenulisan online dengan intensitas komunikasi yang dulu pernah terbangun juga hubungan yang masih baik sampai dengan sekarang, aku memilih untuk mempercayai kisahmu. Dengan kata lain, kuanggap, takdimu memang sungguhan gila.
Tapi ... kau berhasil keluar dari semua itu. Kau bermetamorfosa dan bertransformasi tanpa melupakan sama sekali bahwa masa lalu ikut andil membentukmu yang sekarang.
Apa yang membuatmu mampu melewati semua itu (dengan atau tanpa luka batin yang dibawanya)? Apakah sebab cinta dari orang-orang yang sempat hadir di hidupmu sedikit memberikan kebertahanan dalam menghadapi takdirmu? Yang bahkan setelah kau telah bertransformasi, keberadaan mereka masih membenak di kepalamu hingga membuatmu ingin membukukan kisah tersebut sebagai bentuk permintaan maafmu kepada mereka sekaligus pemaafan terhadap dirimu sendiri? Ataukah ada alasan lainnya yang menjadi musabab?
Lebih jauh lagi, kubertanya-tanya, "Apakah pada saat kegelapan mengepungmu dan membuatmu berputar-putar di jalan yang tak tentu arah tujuan, kau sempat merasakan kehilangan diri sendiri? Jika iya, bagaimana rasanya? Dan jika tidak, apa yang membuatmu bertahan tidak kehilangan dirimu?"
Pertanyaan yang kuajukan tak hanya berhenti sampai di situ. Pertanyaan krusial pun semakin banyak berlintasan di kepalaku.
Pernahkah kau memaki dan menggugat takdir?
Pernahkah kau marah pada Tuhan?
Pernahkah kau melepaskan segala ritual peribadatan yang menjadi jembatan bagimu mendekati-Nya?
Dari gambaran kisahmu ini, sebagai manusia yang fakir ilmu, dan dengan pengalaman terbatas yang tak pernah berada di posisimu, aku tergagap-gagap mencerna soal hubunganmu dengan Tuhan yang akhirnya menggiringmu meretas kegelapan dan berjalan kembali menuju-Nya. Aku menanyakan hal yang serupa pada Tuhan seperti pertanyaan yang kutanyakan padamu.
Aku bertanya pada-Mu, Duhai Tuhan Semesta Alam, soal orang-orang yang Engkau pilih untuk kembali pulang ke jalan-Mu:
Apakah Engkau sangat marah saat hamba-Mu memaki dan menggugat maha karya skenario yang Engkau tetapkan untuknya?
Ataukah Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, jauh lebih paham dan menganggap bahwa itu hanyalah rengekan seorang anak kecil dimana hamba-Mu sedang belajar mengenali dirinya sendiri, mendewasa bersama waktu untuk menerima takdir dari-Mu dan akhirnya memahami bahwa apapun pemberian-Mu adalah yang terbaik?
Apakah Engkau benar-benar melepaskan diri dari hamba-Mu ketika dia memutus serangkaian ritual peribadatan yang (menurut orang-orang alim) menjadi jembatan keterhubungan antara Engkau dan hamba-Mu?
Ataukah Engkau Yang Maha Pemberi Hidayah lagi Maha Membimbing hanya sengaja memberikan hamba-Mu waktu berputar-putar kebingungan sejenak dalam labirin sampai kembali menemukan arah jalan keluar dan memberikan pembelajaran tentang makna keterhubungan yang paling murni dan kekal abadi hanyalah dengan-Mu?
Apakah Engkau benar-benar murka semurka-murkanya atas dosa-dosa yang hamba-Mu perbuat selain dosa menyekutukan-Mu?
Ataukah Engkau Yang Maha Suci lagi Maha Benar sedang menundukkan kesombongan yang ada pada diri manusia agar tidak berpikir dan merasa dirinya sebagai makhluk yang paling suci diantara sesamanya serta mencegahnya dari kebodohan lisan yang mudah menghakimi orang-orang yang tengah berada dalam kekelaman hidup dari sudut pandang hamba-Mu yang terlampau sempit dan dangkal?
Lalu, sebuah suara dalam batin, yang memanifestasikan diri dalam pemikiran juga perasaan, mengatakan sesuatu tentangmu, Sahabat:
Mungkin saja, hatimu masih tetap mengingat Tuhan. Sekalipun kau dalam kegelapan, dirimu masih selalu menyebut nama-Nya terlepas dijalankan atau tidaknya ritual peribadatan tertentu di masa-masa tersebut.
Mungkin saja, hatimu masih tetap mengingat Tuhan. Sekalipun kau dalam kegelapan, jiwamu masih selalu mencari keterhubungan dengan-Nya melalui makna kekosongan-kekosongan yang kau alami dan kau rasakan dalam hidupmu.
Oleh sebab itukah Tuhan masih mengawasimu dan tak benar-benar meninggalkanmu sehingga kau tak kehilangan dirimu sendiri?
Oleh sebab itu pulakah, akhirnya, dirimu mampu menemukan pintu keluar dari kegelapan dan memahami ke mana seharusnya jalan pulang itu menuju, wahai Sahabat?
Mungkin saja sebab hati hamba-Mu masih tetap mengingat-Mu meski dalam kegelapan, Engkau tak berpaling darinya. Mungkin saja begitukah, Duhai Rabb Semesta Alam?
-Vinny Erika Putri, 13.10.20


0 komentar:
Posting Komentar