Minggu, 26 Agustus 2018

Tentang Pengorbanan Yang Tak Butuh Dipahami Dan Dimengerti


Terkadang, kita harus bisa melupakan pengorbanan kita terhadap seseorang atau banyak orang agar tidak tumbuh harapan di hati kepada orang tersebut untuk memahami dan mengerti diri kita. Dengan begitu, kita tidak akan menelan pahitnya rasa kecewa. Berat? Sulit? Sakit hati? Memang. Itulah harga mahal yang membentuk ketulusan diri.
Pada sudut sunyi yang telah lama berlalu, di mana kau duduk termenung dalam kondisi yang teramat sangat jenuh, kau pernah bertanya soal ini. Soal pengorbanan.

Saat itu, kau diamanahi mengelola sebuah lembaga pendidikan memasuki tahun ketiga masa kerjamu di lembaga tersebut. Kau mengorbankan banyak waktu, tenaga dan pikiran lebih dari sebelumnya. Pengorbanan yang juga menguras emosi dan jiwamu karena banyak orang yang menjadikanmu tumpuan. Yang seringnya pengorbanan itu kurang dihargai oleh garis komando teratas. 

Dan titik menyakitkan yang pernah kau alami adalah ketika pengorbanan itu tidak bisa dipahami dan dimengerti oleh sesiapa pun, bahkan oleh orang yang kau sayangi dan pedulikan.

Kekecewaan yang terlahir dari perasaan semacam ini lebih menyakitkan daripada dikecewakan oleh orang yang sangat kau percaya dan andalkan.

Dikecewakan oleh orang yang kau andalkan mengajarimu untuk tidak bergantung pada orang lain dan berusaha tidak mengecewakan orang lain.

Tapi... ketika pengorbananmu tidak dipahami dan dimengerti... butuh berkali-kali jatuh bangun untukmu menerima pemahaman diri bahwa ITULAH PROSES PEMBENTUKAN KETULUSAN DIRI. 
Pengorbanan yang tulus adalah pengorbanan yang tak butuh dipahami dan dimengerti.
Sulit?
Berat?
Sakit?
Memang.

Hingga kini... proses itu masih terus berlangsung. Proses yang perjalanannya bukan tanpa air mata.

Tapi, setidaknya, proses sebelumnya yang pernah kau alami bisa membuatmu berdamai dengan diri sendiri melalui pemahaman tersebut.

Bahwa pengorbananmu sebagai bentuk kepedulian untuk memajukan sebuah tim kerja atau tim apapun, tak mesti dipahami dan dimengerti oleh sesiapa pun.

Bahwa pengorbananmu sebagai bentuk rasa sayangmu yang ingin melihat orang yang kau sayangi maju dan berubah lebih baik lagi, tak mesti dipahami dan dimengerti oleh orang tersebut.

Bahwa setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri tentang makna pengorbanan dalam kehidupan mereka masing-masing.

Malam ini.... di titik yang berbeda... kau kembali memikirkan hal yang sama. Tentang pengorbanan yang tak butuh dipahami dan dimengerti.

Kau mengingat pertemuan dengan seorang teman dekat siang tadi, dan bertanya kepada batinmu sendiri, "Mungkinkah beliau yang akhirnya membuat jarak dengan teman dekatku merasakan semacam pengorbanan yang tak butuh dipahami dan dimengerti? Atau malah, keduanya, tengah merasakan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Beliau sebagai guru merasakan pengorbanan yang gagal untuk membentuk teman dekatku menjadi orang yang taat pada ajaran agama menurut versinya. Sementara teman dekatku merasakan pengorbanan yang gagal setelah ia menunjukkan sikap kepedulian dan rasa sayangnya terhadap beliau."

Kau pun menelan entah. Kau tak ingin menjadikan tebakanmu sebagai Tuhan hingga membuatmu merasa menjadi seorang yang serba tahu.

Tapi, saat kau memikirkan itu, ada sesak yang sempat menghimpitmu. Dan berubah menjadi nyeri yang menjalar di hatimu. Karena kau sangat tahu benar, bagaimana rasanya. Tentang pengorbanan yang tak butuh dipahami dan dimengerti. Yang bahkan hingga kini kau masih mengalaminya. Yang kadang masih saja bisa membuat matamu menghangat dan melahirkan basah di sudut mata.


Saat itu... berulang-ulang, kau harus kembali memahamkan satu hal pada diri sendiri bahwa
Pengorbanan yang tulus adalah pengorbanan yang tak butuh dipahami dan dimengerti. Dan kau tidak merasakan kecewa karenanya.

*Poin of View (sudut pandang cerita) menggunakan orang kedua sebagai tokoh "aku".

-Vinny Erika Putri, 26.08.18

1 komentar: