Percaya sama Allah, kalau memang beliau dikirimkan untuk hidup kamu, waktu akan tetap membuat kalian bersama dalam ikatan ukhuwah yang dekat terikat. Tapi, kalau Allah menakdirkan beliau sebagai orang yang singgah, bukan menetap tinggal... jarak dan waktu akan memudarkan ikatan itu. Yang terpenting, apapun dan sebagai apa ia ditakdirkan untuk kamu, jadikan ia sebagai orang baik yang pernah menginspirasi banyak kebaikan untuk kamu. Kenang kebaikannya, balas kebaikannya dengan menjadikan nasehat kebaikannya itu sebagai amal jariyah beliau dengan cara kamu melaksanakan nasehatnya yang baik.
Kadang, dalam hidup, kita harus bisa menyediakan hati yang lapang untuk menerima bahwa orang yang sangat baik pada kita dan begitu kita sayangi hanya ditakdirkan menjadi orang yang sekadar singgah. Bukan menetap tinggal. Yang bisa dilakukan ketika seseorang itu memilih menjauh adalah tetap mendoakannya. Mengingat kebaikannya.
Ia menyimpan dengan baik kata-kata yang pernah aku tuliskan untuknya. Kata-kata yang sejatinya pada waktu itu kutujukan untuk diri sendiri karena pernah mengalami hal yang sama dengan yang dirasakannya pada saat itu.
Aku telah banyak belajar memahami kehilangan. Bukan kehilangan secara fisik. Tapi secara ikatan jiwa. Kehilangan yang sanggup membuat air mataku menganak sungai. Kehilangan yang bisa terbaca dan terasa olehku bahkan sebelum orang tersebut mengatakannya atau menghilang tiba-tiba dari hidupku atau "membuat jarak" denganku. Kehilangan yang menancapkan rasa sakit mendalam sekaligus pembelajaran hidup.
Kehilangan orang-orang yang sangat baik padaku atau seseorang yang kusayangi (yang bukan dalam ikatan darah), mengajariku bahwa aku tak memiliki kekuatan untuk mengikat jiwa seseorang tanpa izin-Nya.
Kehilangan mereka mengajariku bahwa orang-orang yang hadir dalam hidupku adalah milik-Nya yang dititipkan-Nya padaku agar aku tak menjadi sebatang kara. Dan Allah berhak mengambilnya kapan saja. Bukan dalam bentuk kematian saja... tetapi juga lepasnya ikatan jiwa sehingga masing-masing saling menjauh.
Kehilangan mereka mengajariku sebuah pemahaman bahwa bisa jadi aku sendiri adalah seseorang yang juga ditakdirkan hanya sekadar singgah dalam kehidupan orang lain.
Sesakit apapun rasa kehilangan itu... aku memang harus bisa menyediakan hati yang lapang untuk menerima bahwa orang-orang tersebut hanya ditakdirkan sebagai orang yang sekadar singgah. Bukan untuk menetap tinggal menemani hidupku hingga akhir hayat.
Dan ketika aku ditakdirkan menjadi seseorang yang hanya sekedar singgah dalam kehidupan orang lain... aku harap bukan ingatan menyakitkan yang kutinggalkan di memori orang-orang tersebut.
Doaku, semoga dalam kehidupanmu... aku bukan ditakdirkan sebagai orang yang singgah dan menyisakan air mata dalam ingatanmu, Adik Kecilku.
-Vinny Erika Putri, 26.08.18


0 komentar:
Posting Komentar