Sabtu, 07 Maret 2015

#1. Untukmu Yang Masih Entah



Untukmu yang masih entah, aku mencarimu... terus mencarimu. Dengan menggenggam harapan. Semakin aku mencari semakin erat kugenggam harapan. Namun, yang kudapati harapan menjelma butir-butir pasir. Luruh. Menyisakan lelah.

Lalu, aku berhenti mencari. Untukmu yang masih entah, aku memilih menanti. Menantimu sembari kembali mengumpulkan remah-remah harap yang tercecer.

Kulewati hari-hari dengan tangguh. Tertawa-tawa bersama malaikat-malaikat kecil milik orang lain saat mentari menggagah hingga senja menjelang. Dan mengakrabi sunyi dengan aksara-aksara kala rembulan melipat mentari.

Aku terus menantimu. Sembari melawan mimpi tentang luka-luka masa lalu yang terkadang menghampiri tanpa kuingini. Mimpi yang kerap nyalang menantang tangguh yang kubangun berpayah-payah.

Aku terus menantimu. Sembari aku menyulam senyum kepada orang-orang yang menanyakan kapan separuh menjadi satu yang genap. Pula turut mengucap bahagia kepada mereka yang telah menggenap layaknya rembulan purnama.

Aku terus menantimu. Sembari menggapai depa demi depa mimpi-mimpiku tanpa melupakan bahwa aku masih menantimu. Menantimu untuk kau jadikan aku tujuan. Ya. Tujuan. Bukan persinggahan seperti manusia dari jenismu yang berkesudah.

Untukmu yang masih entah, aku terus menantimu. Dengan harap yang mulai berdarah.

-Vinny Erika Putri, 07.03.15

0 komentar:

Posting Komentar