Sabtu, 24 Mei 2014

Kepada Senja di Sudut Jendela



Tahukah kau yang kulakukan seharian ini untuk menunggumu tiba? Membaca. Menulis.

Kalau kau kira aku menghabiskan hari dengan membaca buku, itu tak salah. Tapi, aku lebih senang menyebutnya membaca hidup. Aku membaca hidup dari kisah-kisah yang bertebaran hari ini. Kisah cinta, kehampaan, kekosongan, kengerian yang ganjil, pencarian hakikat hidup dan banyak lagi. Lainnya, aku menampa cerita-cerita getir sahabat pula cerita sepi seorang teman yang ia sendiri tak tahu musabab sepinya.

Lalu, apa yang kutulis? Maukah kau tahu? Aku mengambil saripati pemikiran dan rasa dari kesemua kisah yang terbaca. Meramunya dalam kata-kata. Kutuai banyak tanya di lembar-lembar kata. Sebagian berjawab. Sebagian lagi mengambang mengikuti arus waktu. Setujukah kau, bahwa segala tanya tak harus langsung menemui jawabnya?

Perlahan, kau muncul. Seperti sore berkesudah, dari sudut jendela, aku akan menyaksikan tejamu hingga habis waktu. Bedanya, kali ini tanpa secangkir kopi. Kondisi tak memungkinkan untukku berkarib secangkir kopi meski ingin.

Lantas, bersamamu, aku menyaksikan kehidupan yang serupa. Satu dua burung hendak pulang ke sarang. Hiruk-pikuk sudut gang yang terdengar ramai oleh celoteh orang-orang. Pula, denganmu, kubicarakan impian-impian yang sama. Aku ingin agar langit-Nya mencatat. Dan bila ku terlupa atau mulai lelah, langit akan mengingatkanku melalui tejamu.

Sampai, tejamu perlahan pudar tenggelam, aku tersenyum. Aku ingin bertemu denganmu lagi, esok. Tapi..., tunggu. Jamuan kita belum usai. Sebelum gelap benar-benar memelukmu, sampaikan salamku pada sahabat. Dan katakan padanya, tetaplah ingin hidup meski luka lebam di hati melelahkannya. Tetaplah ingin hidup seperti aku tetap ingin hidup sampai pada waktu-Nya. Sampaikan pula, pada teman yang tengah sepi bahwa itu saatnya ia mengakrabi diri.

0 komentar:

Posting Komentar