Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Jumat, 28 Februari 2014

Mati Kata-Kata


Aku mati kata-kata
Haha!
Kecamuk rasa tak temukan jalan aksara
Haha!
Aku diam
Memandang hampa renyai gerimis

Aku mati kata-kata
Haha!
Isi kepala tiba-tiba membeku
Haha!
Air mata tertawa
Dadaku penuh sesak

Selasa, 25 Februari 2014

It Is Okay Not To Be Okay



"It is okay not to be okay. Didn't hold up your tears and told everything is ok. Be honest with yourself about whatever you feel. Love yourself. Didn't make you looked so tough overhard," said Mom few days ago.

In silence, at the corner window, when i am looking at the darkness of sky, i hear sound of my heart.

"What about you, Mom? Can i say those words for you? It's okay not to be okay. Allthough you're a mother. It's okay not to be okay. You're still great Mom. It's okay not to be okay. It's okay not to be okay."

Then, the wind come so breeze. I'm getting soppy in my eyes. Getting pain in my heart.

Anekdot: Persaingan Dua Saudara



Masih tentang parenting yang rutin tiap bulan diadakan oleh lembaga tempat saya bekerja. Parenting yang dilaksanakan tanggal 22 Februari 2014 membahas tentang "Menumbuhkan Kedisiplinan Anak". Dalam perbincangan awal, sang psikolog membagi tips dan trik untuk menumbuhkan kedisiplinan anak.

Tips dan trik yang umum dan sudah sejalan dengan yang lembaga tempat saya bekerja lakukan, yaitu memberikan teladan kepada anak; memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih pilihan yang telah ditetapkan sebelumnya (misal: menawarkan pilihan dua jenis menu makanan yang kita ingin sediakan); melakukan time out apabila anak tengah mengekspresikan kekesalannya sampai anak tenang kembali; membantu anak untuk mengidentifikasi perasaannya seperti ketika sedang senang, sedih, marah agar anak mampu mengungkapkan apa yang sedang dialaminya sehingga ketidak-nyamanan mereka terselesaikan dengan segera.

Lalu, setelah tips dan trik tersebut, poin perbincangan mulai menarik dengan aneka permasalahan yang dibahas pada sesi tanya jawab. Dari mulai seorang ibu yang anaknya mengalami kesulitan berkonsentrasi menulis dan membaca karena terbilang aktif (energi berlebih) hingga perkara orang tua menyikapi anaknya yang sulit dibujuk untuk mengenakan pakaian profesi yang telah disediakan.

Akhirnya, sampailah sang psikolog sharing pengalaman beberapa orang yang berkonsultasi kepadanya, yang akhirnya mengerucut pada perbincangan persaingan antar saudara.

Pengalaman demi pengalaman sang psikolog menyelami permasalahan orang dan tentunya pengalaman ia sendiri, membuat ia mengambil kesimpulan tentang penyebab persaingan antar saudara. Ternyata salah satu penyebab persaingan antar saudara yang paling mendasar adalah membanding-bandingkan kelebihan saudara yang satu dengan yang lain atau mengunggulkan kelebihan saudara yang satu di mata saudara yang lain dengan maksud agar anak yang dinilai kurang/negatif bisa mencontoh saudaranya yang dianggap unggul.

Hal yang terkadang dilakukan secara sadar ataupun tanpa sadar, berdampak sangat luar biasa. Bisa menjatuhkan mental anak. Mematikan harga dirinya. Membuatnya merasa seolah tak berharga. Parahnya, bisa membunuh kelebihan/potensi lain yang ada pada anak dan melahirkan kebencian antar saudara.

Pelajaran yang didapatkan adalah, buka mata hati dan pikiran bahwa setiap anak spesial, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka dihadirkan-Nya untuk saling melengkapi. Bukan saling menyamakan. Karena satu kepala dengan kepala yang lainnya tidak mungkin bisa sama persis.

Lalu, ada suatu anekdot yang membuat saya terkenang, spontan membuat saya tertawa dan menjadi inspirasi.

Sang psikolog mengatakan, "Ada ibu-ibu bercerita sama saya tentang dua orang anaknya. Anaknya yang satu orangnya sabar, ngalahan sama adiknya, bagus aja pokoknya. Satu anak yang lainnya jail, usil, susah dibilangin, sering gangguin kakaknya. Pokonya sering jadi sasaran kemarahan orang tualah. Sampai akhirnya, si anak yang dinilai nakal sama orang tuanya ngomong begini sama kakaknya, 'Kakak tuh kenapa baik banget sih, sayanya jadi kelihatan jahat!'"

Saya dan rekan-rekan sontak tertawa. Tertawa sambil berpikir dan akhirnya keluar kata "oh" seperti mendapatkan momen "aha" di kepala.

Terlepas dari pelabelan "orang baik" atau "orang jahat" di mata manusia, saya menemukan sudut pandang baru. Seperti yang pernah dikatakan seorang teman kepada saya, "Pahlawan tetap butuh musuh." Pada akhirnya, anekdot persaingan dua saudara ini melahirkan pola pandang yang berbeda, yang sebelumnya tak terpikirkan oleh saya.