Masih tentang parenting yang rutin tiap bulan diadakan oleh lembaga tempat saya bekerja. Parenting yang dilaksanakan tanggal 22 Februari 2014 membahas tentang "Menumbuhkan Kedisiplinan Anak". Dalam perbincangan awal, sang psikolog membagi tips dan trik untuk menumbuhkan kedisiplinan anak.
Tips dan trik yang umum dan sudah sejalan dengan yang lembaga tempat saya bekerja lakukan, yaitu memberikan teladan kepada anak; memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih pilihan yang telah ditetapkan sebelumnya (misal: menawarkan pilihan dua jenis menu makanan yang kita ingin sediakan); melakukan time out apabila anak tengah mengekspresikan kekesalannya sampai anak tenang kembali; membantu anak untuk mengidentifikasi perasaannya seperti ketika sedang senang, sedih, marah agar anak mampu mengungkapkan apa yang sedang dialaminya sehingga ketidak-nyamanan mereka terselesaikan dengan segera.
Lalu, setelah tips dan trik tersebut, poin perbincangan mulai menarik dengan aneka permasalahan yang dibahas pada sesi tanya jawab. Dari mulai seorang ibu yang anaknya mengalami kesulitan berkonsentrasi menulis dan membaca karena terbilang aktif (energi berlebih) hingga perkara orang tua menyikapi anaknya yang sulit dibujuk untuk mengenakan pakaian profesi yang telah disediakan.
Akhirnya, sampailah sang psikolog sharing pengalaman beberapa orang yang berkonsultasi kepadanya, yang akhirnya mengerucut pada perbincangan persaingan antar saudara.
Pengalaman demi pengalaman sang psikolog menyelami permasalahan orang dan tentunya pengalaman ia sendiri, membuat ia mengambil kesimpulan tentang penyebab persaingan antar saudara. Ternyata salah satu penyebab persaingan antar saudara yang paling mendasar adalah membanding-bandingkan kelebihan saudara yang satu dengan yang lain atau mengunggulkan kelebihan saudara yang satu di mata saudara yang lain dengan maksud agar anak yang dinilai kurang/negatif bisa mencontoh saudaranya yang dianggap unggul.
Hal yang terkadang dilakukan secara sadar ataupun tanpa sadar, berdampak sangat luar biasa. Bisa menjatuhkan mental anak. Mematikan harga dirinya. Membuatnya merasa seolah tak berharga. Parahnya, bisa membunuh kelebihan/potensi lain yang ada pada anak dan melahirkan kebencian antar saudara.
Pelajaran yang didapatkan adalah, buka mata hati dan pikiran bahwa setiap anak spesial, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka dihadirkan-Nya untuk saling melengkapi. Bukan saling menyamakan. Karena satu kepala dengan kepala yang lainnya tidak mungkin bisa sama persis.
Lalu, ada suatu anekdot yang membuat saya terkenang, spontan membuat saya tertawa dan menjadi inspirasi.
Sang psikolog mengatakan, "Ada ibu-ibu bercerita sama saya tentang dua orang anaknya. Anaknya yang satu orangnya sabar, ngalahan sama adiknya, bagus aja pokoknya. Satu anak yang lainnya jail, usil, susah dibilangin, sering gangguin kakaknya. Pokonya sering jadi sasaran kemarahan orang tualah. Sampai akhirnya, si anak yang dinilai nakal sama orang tuanya ngomong begini sama kakaknya, 'Kakak tuh kenapa baik banget sih, sayanya jadi kelihatan jahat!'"
Saya dan rekan-rekan sontak tertawa. Tertawa sambil berpikir dan akhirnya keluar kata "oh" seperti mendapatkan momen "aha" di kepala.
Terlepas dari pelabelan "orang baik" atau "orang jahat" di mata
manusia, saya menemukan sudut pandang baru. Seperti yang pernah
dikatakan seorang teman kepada saya, "Pahlawan tetap butuh musuh." Pada
akhirnya, anekdot persaingan dua saudara ini melahirkan pola pandang
yang berbeda, yang sebelumnya tak terpikirkan oleh saya.