Malam itu ... batinku menjerit. Entah berapa lama ketidaknyamanan perasaan kupendam dan kutunda untuk dialirkan hingga akhirnya tetas menjadi tangis lirih.
Kubenamkan wajahku pada bantal. Lantas, berteriak kencang pada Tuhan dalam tangis. Aku bertanya dan mempertanyakan tentang hidupku yang kembali terasa pedih. Pun, aku meminta Tuhan menjawabnya saat itu juga.
Malam itu, aku memberikan ruang dan waktu bagi diriku sendiri untuk mengeluarkan katarsis batinku dalam hening sunyi sepuasnya. Saat adik perempuanku mengetuk pintu entah ingin menyampaikan sesuatu, kukatakan dengan nada diatur setegas mungkin untuk menyembunyikan serak tangis, "Mbak sedang gak mau diganggu, ingin istirahat."
Lalu, kumelanjutkan teriakan batin dengan kepungan gugatan pertanyaan "mengapa" yang semakin terasa mencekik napas.
Mengapa aku dilahirkan di keluarga seperti ini? Bapak tidak mampu bersikap dewasa selayaknya seorang bapak ataupun suami di sepanjang usianya. Ibu yang kerap mengalah dan memendam semua emosi dirinya dengan kemengalahannya pada bapak lantas ketika "sampah" batinnya telah penuh, akulah yang menjadi penampung racunnya melalui pengaliran emosinya yang disampaikan lewat tutur cerita. Dua adik yang jauh dari kata mandiri dalam banyak hal. Satu laki-laki korban salah pola asuh yang dimanjakan bapak hingga masih menjadi pengangguran di usianya yang genap kepala tiga dan tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Satu perempuan berkebutuhan khusus dengan ketidakstabilan emosi dan intelegensi penalaran rendah di bawah kategori intelegensi orang normal. Aku sulung, mengunyah masalahku sendiri, dan kerap menyelesaikan setiap masalah keluarga yang diserahkan orang tua padaku.
Mengapa aku belum juga dikaruniai pasangan hidup? Aku melihat satu per satu temanku memiliki pasangan dan anak. Setiap kali mendengar kabar pernikahan teman-teman terdekat, aku melakukan dua hal yang cukup menguras energi: bahagia untuk mereka, tapi juga mesti kuat-kuat menjaga kerentananku yang belum sampai pada titik dimana mereka sudah berada di sana. Aku kembali menghadapi hal itu sebulan ini. Rekan kerjaku yang belum lama menikah, hamil dengan cepatnya.
Mengapa aku seringkali menjadi sosok yang diandalkan orang-orang? Aku bosan berbuat baik. Aku lelah menjadi garda terdepan pelindung bagi orang banyak. Tapi, menjengkelkannya, aku tidak bisa berlepas diri berlaga tidak peduli dengan kesulitan orang-orang ketika mereka membutuhkan bantuan.
Mengapa aku belum juga mencapai kemandirian dan kestabilan finansial untuk hidupku sendiri? Aku merasa tak menghasilkan sesuatu yang sebanding dengan kerja keras maksimal yang sudah kulakukan di tempatku bekerja. Aku muak dengan ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban yang dipikulkan yayasan kepadaku. Dan itu terjadi berulang kedua kalinya di tempat yang berbeda sehingga memperkuat pandanganku bahwa dunia religius pun sama brengseknya ketika berhadapan dengan uang.
Di akhir katarsisku, kututup pertanyaan akhir pada Tuhan, dengan pertanyaan berulang yang kerapkali kudengar saat diri menggugat hidup dengan pertanyaan mengapa yang tak kunjung kutemukan penyelesaiannya.
Apa yang ENGKAU inginkan untuk hidupku, Wahai Tuhan? Apa yang mesti aku ubah? Aku tidak tahu untuk apa hidup dan kehidupanku?
Selebihnya, sunyi hanya ditimpali jerit tangis panjang yang lebih keras bergema menghujam dada. Butuh waktu cukup lama untuk emosiku teralirkan dan tangisku mereda.
Setelah perlahan-lahan kelegaan merengkuhku, aku membuka botol berisi kumpulan ayat-ayat Al-Quran yang kupilih sendiri secara intuitif. Tiga kali kocokan berurutan. Terkumpul 3 lintingan kertas berisi 3 ayat Al-Quran.
Q.S 17:25
Tuhan kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian; jika kalian orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
Q.S 99:7
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Q.S 13:11
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Hai, Aku Yang Mencari Pencerahan, biar kupeluk dirimu. Aku sangat memahami, tak mudah menjadi dirimu dengan segala takdir yang berusaha kau terima sekaligus syukuri. Jatuh bangun kau bertahan untuk tidak keluar dari jalur-Nya ketika hidup tengah menempatkanmu pada situasi dan kondisi yang penat menjenuhkan.
Sekarang, mari kita sisir emosi-emosi yang kau rasakan agar kau bisa melihat jelas antara realita yang terjadi dan harapan diri sebelum kau kembali menerima dan memahami keduanya sembari bertafakur dengan tiga ayat jawaban tersebut.
Hai, Aku Yang Tengah Mencari Pencerahan. Sebelum memaknai tiga ayat jawaban, pertama-tama, biarkan aku menjawab sejujur-jujurnya atas apa yang sisi gelapmu suarakan. Kuurai satu per satu, apa yang membuat nada jeritan tersebut terdengar sama dan berulang gaungnya.
Pertama, kau belum benar-benar ridho dengan apa yang Tuhan berikan dalam hidupmu. Kau belum sepenuhnya ridho dengan takdirmu. Hatimu masih menolak apa yang dinamai penderitaan sehingga kau menolak dirimu, keluargamu, orang-orang atau suatu material apapun yang kau anggap menciderai kebahagiaanmu.
Kedua, kau belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari keterikatan pada sesuatu hal yang berada diluar dirimu. Keterikatan itu pada akhirnya menciptakan beban di hidupmu.
Apa maksudmu Wahai Penjaga Kesadaran Diri?
Kubedah dengan lebih tajam lagi, sampai ke akar-akarnya, Wahai Aku yang Tengah Mencari Pencerahan.
Pertama, soal kau belum ridho dengan takdir yang Tuhan berikan dengan terlahir di keluarga yang tidak ideal menurutmu. Kau tahu? Apa yang membuatmu tidak ridho adalah karena ilmu pengetahuan yang kau miliki dan kecerdasanmu dalam berpikir kritis kau gunakan untuk mengoreksi kesalahan orang tuamu dalam mendidik anak-anaknya? Kau menggunakan daya nalar argumenmu sebagai penghakiman dan pembenaran luka-luka masa kecil yang membekas hingga dewasa untuk menyelisihi bahkan menyerang mereka diam-diam atau terang-terangan. Kau belum bisa sepenuhnya memaafkan ketidaktahuan dan keterbatasan kapasitas yang mereka miliki sebagai orang tua. Kau masih terjebak pada idealisme ekspektasi diri yang jauh dari realita di hadapanmu. Semakin kau belajar banyak ilmu pengetahuan semakin banyak hal yang kau lihat tidak ideal di masa lalumu sebagai anak dan masa lalu orang tuamu sebagai pendidik anak-anaknya atau pasangan suami istri. Kau gusar dan mengiyakan ketidak-idealan itu yang menorehkan "kecacatan" karakter atau mental pada dirimu dan saudara-saudaramu. Bahayanya, jika Aku Sang Penjaga Kesadaran Diri menghilang dari sisimu, pemikiran-pemikiran tersebut akan melukai diri seorang Vinny Erika Putri semakin dalam. Dan bisa terjadi kematian pada diri Aku Yang Tengah Mencari Pencerahan didalam dirinya.
Kemudian, mengenai keterikatan dirimu dengan sesuatu diluar dirimu. Ada tiga tali diluar dirimu yang tengah mengikatmu:
Satu, kau terikat pada sesuatu yang sifatnya pamrih. Kau masih terikat dengan pamrih yang membuat bahagia hidupmu bergantung pada balasan pemberian makhluk yang ujungnya hanya membuatmu kecewa. Pamrih pulalah yang membuatmu merasakan kebosanan berbuat baik dan lelah menghayati pekerjaanmu yang sedari awal kau maknai sebagai panggilan jiwa.
Dua, kau terikat pada suatu persepsi yang bias. Bias persepsi seperti apa yang kumaksud? Bias persepsi antara sikap menolong dan tanggung jawab hingga akhirnya menjadikan sikap menolong sebagai tanggung jawab yang tidak seimbang porsinya. Dengan kata lain, apa yang sebenarnya bukan kewajibanmu untuk menolong, kau paksakan diri untuk kau pikul sebagai tanggung jawab. Kau merasa bertanggung jawab sebagai sulung. Kau merasa bertanggung jawab sebagai teman. Kau merasa bertanggung jawab sebagai pelindung sekelilingmu. Kau ciptakan beban-beban hidupmu sendiri dengan memakai kacamata persepsi sikap menolong adalah sebuah tanggung jawab.
Tiga, kau terikat pada apa yang belum kau miliki. Kau terikat pada rasa mendamba kehadiran pasangan hidup yang belum juga kau dapatkan beserta idealisme keluarga kecil yang ingin kau bangun didalamnya. Keterikatan itu, menjadikanmu terluka ketika berulang-ulang mendengar kabar teman-temanmu menikah atau memiliki anak. Kau terluka bukan karena mereka, tapi oleh keinginan dirimu sendiri yang terlahir dari rasa mendambakan sesuatu yang belum kau gapai.
Lalu, apa makna yang ingin ditunjukkan tiga ayat itu untuk keadaan batinku saat itu? Kau sendiri membutuhkan waktu yang lama bukan untuk memaknai, Wahai Penjaga Kesadaran Diri?
Kuulas satu persatu tiga ayat yang menjawab kondisi batinmu, dimulai dari urutan lintingan kertas pertama yang keluar dari botol.
Q.S 17:25
Tuhan kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian; jika kalian orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
Tuhan tahu, kau belum menerima pemberian-Nya dengan ridho. Kau belum memaafkan orang tuamu dan melakukan kejahatan dengan ilmu pengetahuan yang kau miliki untuk mengoreksi mereka lalu menggugat hidup yang menurutmu kadang terasa tak adil. Kau melupakan keringat dan jerih payah mereka selama membesarkanmu.
Ibumu yang berjuang melahirkan dan menyusui, mengutamakan kebutuhan anak-anak dibandingkan dirinya, membunuh mimpi-mimpinya demi membersamai anak-anak di rumah, tak putus-putus mendoakan hal-hal baik untuk keluarga kecilnya dan berdiri tegar demi buah hatinya meski dengan hati yang bersayat luka-luka. Melahirkan adikmu yang berkebutuhan khusus adalah ujian terberat dalam hidupnya yang beliau jalani dengan ikhlas. Menerima kondisi anak-anak laki-lakinya yang tidak seperti lelaki dewasa lainnya akibat pola asuh yang salah dari suaminya adalah kesabarannya yang diberusahakan terus mengada. Bersuamikan dengan latar belakang kondisi pola asuh produk broken home adalah keputusan yang dengan tegar tak pernah beliau sesali dalam ucap kata-kata sekalipun. Terimalah ibumu sebagaimana beliau berusaha menerima anak-anak dan suaminya lebih dari beliau menerima dirinya sendiri.
Bapakmu yang banting tulang tak kenal lelah mencari nafkah untuk keluarga. Bapakmu yang rela pensiun dini dari gemerlap dunia PNS karena situasi kantornya yang sudah tidak kondusif dan bertentangan dengan prinsip kejujuran yang dipegangnya. Bapakmu yang rela pensiun dini dari karir PNS-nya yang menjanjikan, melepas jabatannya dan menjauhi diri dari atasannya (seorang perempuan penggoda) yang terus saja berusaha menempelinya. Bapakmu melepaskan pekerjaannya lebih awal dari masa yang seharusnya demi keutuhan keluarga dan kesetiannya pada ibu. Keputusan itu adalah sesuatu yang sangat amat berat bagi seorang lelaki. Bapakmu yang kekurangan kasih sayang seorang ibu karena semenjak kecil beliau harus rela berbagi kasih sayang dengan adik-adiknya yang lahir tiap tahun berturut-turut selama 9 tahun dan sempat menjadi saksi perselingkuhan ayahnya saat ibunya masih hidup. Lantas harus menelan kenyataan dengan ikhlas, perempuan itu menjadi ibu tirinya setelah sang ibu kandung meninggal. Tidak mudah baginya untuk memahami bagaimana berlaku lembut terhadap istrinya, mengelola emosinya dengan tepat juga cara mendidik anak-anaknya sebagai seorang ayah karena beliau tak menemukan teladan yang tepat dalam pengalaman perjalanan hidupnya. Terimalah bahwa bapakmu sendiri memiliki luka-luka di masa kecilnya yang beliau tekan dan tak sadari.
Sadarilah dan maknailah dengan bahagia, bagi mereka, memilikimu adalah satu-satunya harapan dan keajaiban yang menormalkan hidup mereka. Ibumu mengasah karakter dan potensi kecerdasanmu sedemikian rupa sedari kecil. Bapakmu menaruh kebanggaannya padamu. Mereka memberikan pendidikan terbaik untukmu. Setara dengan permintaan bantuan atas masalah-masalah yang mereka butuhkan pendapat atau kesulunganmu untuk turun tangan mengatasinya. Dan semakin mereka menua, semakin mereka membutuhkanmu sebagai keajaiban yang mampu menjaga nyala lampu keluarga ini.
Tuhan ingin kau menerima pemberian-Nya karena Tuhan tahu hatimu masih menolak. Maafkan dirimu, maafkan kedua orang tuamu dan memohonlah ampunan kepada-Nya atas kejahatan prasangkamu kepada kedua mereka sebagai langkah awal ridho dengan takdirmu.
Kemudian, berlanjut ke urutan lintingan ayat kedua:
Q.S 99:7
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Tuhan tengah mengingatkanmu untuk melepaskan keterikatanmu dengan sifat pamrih; mengingatkanmu untuk berbuat baik tanpa mengharapkan pamrih dari manusia agar kau tak mengalami kekecewaan yang sama. Bahkan, pamrih pada Tuhan pun tak semestinya ada didalam hatimu. Pahamkah kau? Tuhan sudah memberikan kebaikan-Nya dalam bentuk rahmat dan nikmat-Nya yang tak terbatas sebelum kau meminta hakmu. Pamrih membutakanmu dari kesadaran diri. Sadarilah, sesdar-sadarnya, penjagaan-Nya atas kesadaran dirimu yang tetap hadir ketika realita hidup terasa amat sangat tidak waras merupakan balasan dari-Nya yang seharusnya bisa kau lihat setiap kali kau memilih tetap berpegang pada kebaikan dirimu.
Terakhir, urutan lintingan ayat ketiga:
Q.S 13:11
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Tuhan ingin kau melepaskan keterikatan dengan persepsi yang bias soal tanggung jawab. Kau tak harus menolong dan memikulkan perlindungan orang-orang pada pundakmu melebihi batas kemampuanmu. Tuhan telah memberikan penjagaan-Nya melalui para malaikat pada tiap diri manusia, termasuk anggota keluargamu, sahabatmu, teman-temanmu dan rekan-rekanmu dalam pekerjaan. Penjagaan Tuhan lebih perkasa dari kekuatan apapun yang ada di jagad raya. Lainnya, Tuhan tak ingin kau terikat pada sesuatu yang belum atau sudah kau miliki dan menegaskan bahwa bukan pada lelaki yang kau dambakan kehadirannyalah kau menyandarkan perlindungan, tapi Dialah satu-satunya pelindungmu sekalipun kelak garis jodoh pasangan hidup telah sampai padamu.
Terakhir, mari menjawab pertanyaan di akhir jeritanmu:
Apa yang ENGKAU inginkan untuk hidupku, Wahai Tuhan? Apa yang mesti aku ubah? Aku tidak tahu untuk apa hidup dan kehidupanku?
Tuhan ingin kau mengubah dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum menginginkan kondisi diluar dirimu berubah. Tuhan memperingatkanmu hal-hal yang berada didalam dirimu (pemikiran, perasaaan, ilusi imajinasi dan karakter) adalah hal yang paling mungkin untuk kau ubah dan kendalikan.
Jalan hidupmu adalah bertransformasi dari penderitaanmu, mengubah gelap dan getirnya luka-luka menjadi terang cahaya yang mampu menerangi dirimu untuk bangkit berjalan meniti jalan spiritual yang (selalu dan selalu) mengarah kepada-Nya, menuju-Nya. Tak peduli seberapa sering kegetiran hidup mengkremasimu menjadi butiran abu, kekuatanmu adalah bangkit dengan jiwa yang baru dari abu kematian hati. Luka-luka mengajarimu bagaimana cara untuk hidup kembali dan sembuh darinya. Kau hidup untuk merasakan dan memahami kepedihan luka orang lain melalui pola lukamu sendiri lantas mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan keberdayaan yang sejatinya Tuhan bekali pada diri sejati yang hidup didalam diri setiap manusia.
-Vinny Erika Putri, Perjalanan Kontempelasi Diri, 04-12 April 2021


0 komentar:
Posting Komentar