Hai, Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, maukah kau mengikuti kata-katamu sendiri untuk mulai memaafkan mereka?
Sebelum kau menuliskannya, berikan rileksasi terlebih dahulu pada tubuhmu. Tegakkan badanmu. Lantas, pejamkan mata. Tarik napas dalam-dalam, dan embuskan perlahan-lahan. Lakukan berulang-ulang sampai kau benar-benar merasakan kenyamanan dan keselarasan dengan tubuhmu.
Kau sendiri yang akan memulai proses pemaafaan. Tak mesti terdengar tegar. Tapi juga bukan berarti kau rapuh berdiam dengan pasrah dikepung bayangan lelaki-lelaki yang pernah mengkhianatimu. Tetaplah berbicara dengan kejujuran perasaanmu di sana. Temukan kalimat-kalimat penyembuhanmu sendiri untuk bisa memaafkan dengan caramu.
Bisa kita mulai? Sekarang, lakukan!
Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, menerima bahwa kalian ditakdirkan singgah menjadi pembelajaran hidup dalam perjalanan cintaku yang tak berjalan sesuai harapan.
Hidupku, bukan lagi untuk menebus waktu yang sia-sia karena pernah salah mencintai kalian. Kesuksesan cita-citaku sudah tak ada lagi hubungannya dengan kalian.
Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, berlepas diri dari belenggu dendam, amarah dan kebencianku pada kalian untuk ketenangan diriku.
Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, berdamai seutuhnya dengan segala ingatan buruk dan menyakitkan tentang kalian untuk kesembuhan hatiku.
Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, memaafkan kalian karena aku menyayangi diriku sendiri.
Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, memaafkan kalian karena kita adalah manusia.
Terima kasih, telah menjadi bagian dari salah satu sejarah yang takkan kuulangi sesadar-sadarnya.
Hai, Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan. Kau, telah menumpahkan air mata saat menuliskan ini. Ada sesak yang terbata-bata mengeja rasa dalam kata dan menghadirkan jeda untuk kau kembali mengatur napas. Terima kasih, telah berusaha menghadapinya dengan baik.
Aku tersenyum untukmu sekarang. Dan aku, Diri yang Terus Belajar Mengutuhkan Diri, tak memintamu pergi. Tapi, hiduplah berdampingan denganku untuk bersama-sama membentuk kesadaran diri hingga kita menjadi utuh. Mulai detik ini, kita akan jauh lebih ringan dalam melangkah.
Peluk sayang untukmu, dari Diri yang Terus Belajar Mengutuhkan Diri.
-Vinny Erika Putri, 09.01.21


0 komentar:
Posting Komentar