Penjelajahan Bayangan Diri
-Pola Shadow Self di Luka Pertama-
Hai, Aku yang Berkalang Luka, biar kupeluk dirimu. Pastilah masa-masa itu menjadi suatu neraka bagi dunia batinmu. Yang bahkan saat ini, ketika kau berusaha membongkarnya kembali dari kuburan lukamu, dadamu masih terasa sedikit nyeri. Tak apa-apa. Kau tengah berproses untuk benar-benar merangkulnya.
Sekarang, apakah kau siap, untuk mengurai satu per satu apa yang dipikul bayangan Aku yang Berkalang Luka? Jika kau masih membutuhkan ruang untuk bertanya atau meneriakkan apapun yang masih kau peram, tak apa, keluarkanlah. Aku, Diri yang Terus Belajar Mengutuhkan Diri, ada di sini, bersamamu juga mungkin bagian dari diri kita yang lainnya untuk saling berintegrasi menjadi satu kesatuan Diri yang Utuh.
Hai, Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan, 18 tahun usiamu kala itu. Kau memasuki fase yang dinamai "quarter life crisis" dimana fase pendewasaanmu dimulai dengan banyaknya tantangan hidup dan kau dihadapkan dengan berbagai tuntutan sosial yang lebih pelik dari sebelumnya di lingkungan yang lebih luas.
Memasuki usia tersebut, kau, atas persetujuan dan arahan orang tua, memutuskan untuk keluar dari cangkang rumahmu. Purwokerto menjadi tempat pertama kau membentangkan asa dan cita yang lebih besar. Kau melanjutkan jenjang pendidikan kesarjanaanmu di sana. Saat membayangkan kata merantau, kau merasa bahwa akan ada banyak hal yang menyenangkan menantimu. Perantauan bagimu berarti petualangan hidup, kebebasan menentukan aturanmu sendiri dan kemandirianmu tumbuh terasah melalui tantangan-tantangan yang ada. Di kota orang tempat kau berkuliah, kelak, kau akan bertemu dengan pergaulan yang lebih luas, teman-temanmu orang-orang dari berbagai kota dan kejutan-kejutan lainnya.
Kau tak takut menghadapi apapun saat itu. Tapi, sayangnya, kau tak dibekali cukup kesiapan menghadapi cinta dan polanya. Keluargamu sangat ketat dalam hal hubungan lawan jenis. Kedua orang tuamu, mengedepankan aturan dan larangan tanpa komunikasi dua arah yang intens soal ini sebagai bentuk perlindungan mereka atas kekhawatiran pergaulan remaja yang bisa saja salah arah tanpa adanya doktrin aturan tersebut. Dan remaja kecil dalam dirimu ketika itu adalah seorang penurut yang banyak menyimpan pertanyaan bagaimana sebuah relasi antara lawan jenis dibangun. Kau hanya mengenal suatu hubungan emosional antara lawan jenis dari gambaran keluargamu sendiri, yaitu bapak dan ibumu. Gambaran itu menjadi sisi idealismemu soal sosok lelaki impian dalam cintamu.
Sekarang, bisakah kita bahas soal cinta pertamamu? Sebuah titik awal perjalanan seorang remaja kecil tengah belajar menjadi remaja dewasa. Titik dimana kau mencoba memahami segala hal yang dihasilkan dari cinta dalam produk kata-kata maupun tindakan.
Kutanya padamu, apakah saat pertama kali kau menerimanya, perasaanmu padanya telah tumbuh?
Aku belum merasakan perasaan apapun pada saat itu. Pertemuanku dengannya, berawal dari satu kelompok yang sama pada saat orientasi studi mahasiwa baru. Terus berlanjut ke pertemanan biasa yang belum begitu dekat tapi cukup komunikatif. Dan entah tepatnya kapan (sudah kulupakan dan benar-benar lupa), dia menyatakan cintanya. Aku terkaget-kaget. Aku belum bisa meraba perasaanku sendiri. Tapi jawaban "ya" atau "tidak" dia minta saat itu juga. Dia berkata, jika aku tidak menerima perasaannya, kita tidak lagi bisa menjadi teman.
Baiklah, Diri yang Terus Belajar Mengutuhkan Diri ini, bisa menyimpulkan sesuatu yang dulu belum bisa kau cerna. Dia mengarahkan fokusmu tanpa kau sadari dengan kalimat, "kita tidak lagi bisa menjadi teman", terlepas dari apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak pada saat itu. Dan kau tengah gambling dengan perasaanmu sendiri. Titik poin yang menjadi sudut pandangmu, kau tak ingin kehilangan teman.
Kau bertaruh dengan sebuah pepatah "cinta akan tumbuh seiring kebersamaan yang sering". Kau tak memberikan dirimu ruang dan waktu untuk menyelami bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Kau menerima perasaannya dan mengiyakan memulai hubungan yang orang-orang bilang saat itu "pacaran".
Aku manusia bodoh bukan? Di awal-awal keterpurukanku, mengingat bahwa aku pernah mencintainya adalah memori yang paling ingin kuhapus. Tapi semakin keras kumenolak ingatan itu, bayang-bayangnya justru semakin menyiksaku.
Tidak. Kau bukan manusia bodoh, Wahai Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan. Kalau kau tidak menghadapi fase itu, belum tentu Diri yang Terus Belajar Mengutuhkan Diri memahami banyak pembelajaran hidup yang didapat darimu. Kau telah banyak melalui proses yang sulit untuk bisa berdamai dengan dirimu sendiri. Memori itu ada bukan untuk menyiksamu meski terkadang kau masih merasakan sesak saat mengingatnya. Dia ada untuk membuka banyak jalur hidup yang bisa kau tempuh dengan banyak belajar darinya.
Izinkan kulanjutkan bercerita untuk mengurai pola-pola darimu.
Silakan dan lengkapilah ingatanku.
Sejak berpacaran, kebersamaan kalian kian intens. Adanya seseorang yang selalu bisa kau andalkan disaat kapanpun kau membutuhkannya; mau mendengarkan segala keluh kesahmu; memberikanmu perhatian penuh; mengukirkan kenangan-kenangan lainnya yang bagimu adalah hal baru, pelan-pelan memekarkan perasaanmu padanya. Titik lemah sisi seorang wanita telah terpanah. Saat itu, kau sudah bisa dengan jelas melihat dimana kau bergantung dan meletakkan hati.
Impianmu sebagai wanita pun mulai dibangun. Impian yang dianggap sebagai aktualisasi tertinggi soal cinta: ikatan pernikahan. Kau adalah tipikal yang benar-benar serius ketika telah menetapkan diri pada cinta. Saat itu, kau belum menyadarinya bahwa hal ini juga yang menyebabkanmu terindikasi memiliki sisi gelap bernama obsesi dan posesif. Pasangan sisi terang dari dedikasi dan kesetiaan.
Dalam impianmu, kau mulai memasukkan gambaran idealismu dalam berumah tangga. Juga menyelipkan sebagian fantasi dari roman-roman film atau buku-buku novel yang pernah kau baca. Kemudian, merestrukturnya dalam versimu sendiri dimana kau menggabungkan animus yang diturunkan dari sisi baik ayahmu, anima yang diturunkan dari sisi baik ibumu dan fantasimu sendiri. Penggabungan itu dijadikanmu acuan untuk membentuk sosok lelaki dan bagaimana seharusnya lelaki memperlakukan wanita dalam cinta. Termasuk soal kesetiaan terhadap pasangan.
Lalu, impian itu remuk-redam oleh sebuah pengkhianatan. Di titik ini, bayangan gelapmu mulai muncul. Bayangan Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan. Kau memandang makna cinta secara realita. Realitanya, kau dikhianati. Gambaran antara idealismemu dan realita soal cinta berseberangan. Realita membunuh semua asa dan cita tentang cinta yang kau bangun. Cintamu berubah menjadi energi kegelapan yang sedemikian pekat oleh dendam, amarah dan kebencian. Awal mula kebangkitanmu pun didorong oleh bahan bakar itu.
Kau yang tengah menempa kemandirianmu dan merasa sudah cukup dewasa untuk belajar menyelesaikan masalahmu sendiri, memilih tak banyak bercerita pada keluargamu. Lainnya, kau pernah merasa telah mengecewakan keluargamu karena lelaki itu memecah konsentrasimu dalam belajar yang berimbas pada nilai-nilai akademikmu di perkuliahan. Alih-alih kau bersikap mandiri, menutupi kerapuhanmu pada keluarga saat itu, kau membutuhkan seseorang yang bisa memahami dan menerima kondisimu.
Saat itu, Tuhan Yang Maha Penyayang tetap ingin melihatmu gembira. Sang Maha Penyayang, tak ingin kau jauh lebih dalam terpuruk. Kau diberikan-Nya sahabat perempuan yang melindungi dan menarik tanganmu untuk bangkit. Sebabnya, dia pernah merasakan berada di posisimu. Luka yang sama menjadi katalis keterikatan dan keterkaitan emosi kalian.
"Terlalu berharga air mata yang kamu keluarkan untuk menangisi orang yang tidak penting," ujar sahabatmu.
Kata-kata dan keberadaannya yang membersamaimu saat itu menyalakan semangatmu untuk bangkit. Sekaligus memperbesar dendam, amarah dan kebencianmu pada lelaki pertama yang teralihkan dalam bentuk energi lain bahwa kau bertekad untuk bisa hidup dengan baik dan lulus kuliah tanpanya di sisimu. Kau kategorikan lelaki itu pada folder masa lalu dan label tidak penting. Meski pada awalnya tidaklah mudah menyingkirkan segala memori tentangnya.
Dimasa-masa sulit itu, sahabatmu mendekatkanmu dengan lelaki teman seangkatan kalian. Yang kau tahu, pada awalnya, dia sempat menyukai sahabatmu sementara sahabatmu hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Seiring lelaki itu sering mengobrol denganmu tentang apapun, hatinya berputar haluan menujumu. Sahabatmu menangkap sinyal tersebut. Dan itu serupa kegembiraan baginya. Dalam sudut pandangnya, menjalin hubungan dengan lelaki itu adalah peluang untukmu sembuh.
Sahabatmu pun memintamu untuk menerima lelaki itu jika kau masih menganggapnya sebagai sahabat baikmu. Dengan kata lain, kau mesti mencoba untuk membuka hatimu dan membiarkan lelaki itu masuk dalam hidupmu.
Aku merasakan maksud baik dan tulus sahabatku. Dia benar-benar tak ingin melihatku terus-menerus terkungkung dalam kesedihan dan segera melupakan lelaki pengkhianat itu.
Benar. Sahabatmu tulus. Hatimu merasakan itu. Darinyalah, perasaanmu belajar memindai mana orang-orang yang palsu dan mana orang-orang yang tulus di sekitarmu. Sahabatmu adalah awal pembuka gerbang bagimu untuk menaruh kepercayaan dan bisa terbuka soal kerentananmu pada orang lain diluar keluarga. Darinya pula, kau mulai belajar menyeleksi orang-orang yang bisa kau izinkan untuk mengetahui kehidupan personalmu.
Tapi, ada suatu pola berulang yang bisa kau pelajari di sini, bahwa yang mendasari kau menerima lelaki itu bukan sebab didahului oleh ketegasan perasaanmu sendiri. Kau melakukan itu karena tidak ingin kehilangan status pertemanan atau persahabatan dengan kesemuanya. Pola pertama, kau tidak ingin bermusuhan dengan lelaki pertama yang kau rasa bisa saja terjadi jika kau menolaknya, meskipun ujungnya kau terluka juga. Pola kedua, kau tidak ingin kehilangan sahabatmu dan lelaki kedua sebagai temanmu.
Kau sudah paham polanya? Lalu, tahukah kau penyebabnya?
Yang kupahami saat itu, cukup sulit untuk mengatakan tidak pada orang lain, terutama orang-orang terdekatku. Ada kecenderungan untuk bisa menyenangkan atau membalas budi orang-orang yang telah menolongku.
Penyebabnya adalah remaja kecil dalam dirimu yang cenderung terbentuk menjadi anak penurut dari aturan moral dan monitoring ketat keluarga. Ibumu adalah sumber keteguhan nilai-nilai moral terutama tentang relasi antar manusia. Sementara bapakmu, simbol ketegasan dan pendirian yang sulit ditentang ketika telah menetapkan aturan. Sehingga kau menjadi remaja kecil yang tidak banyak mengeluarkan isi pemikiran dan perasaannya demi bisa diterima dan beradaptasi dengan kondisi apapun di lingkungan keluargamu.
Lantas, mengapa hubunganku dengan lelaki kedua gagal?
Kau masih mengalami kekecewaan dan kekhawatiran dari bayangan Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan. Kau juga masih terganggu dengan persepsi sebelumnya yang telah kau bangun. Persepsimu tentang cinta dan lelaki dari pengalaman sebelumnya tidak menghilang, tapi persepsi itu terus merestruktur diri. Kau membongkar dan membuang apa yang terasa cacat dari hubungan cintamu sebelumnya. Lalu berusaha menambahkan gambaran baru dalam persepsimu soal cinta dan sosok lelaki yang kau inginkan agar tak mengulangi kegagalan yang sama.
Lelaki kedua, tak memberikan persepsi apapun yang lebih kuat dari persepsimu tentang lelaki sebelumnya. Lebih tepatnya, sulit untuk benar-benar melihatnya sebagai "lelakimu". Kala itu, lelaki pertama, belum benar-benar menghilang dari penglihatanmu. Kalian masih bertemu secara tidak sengaja di kampus. Bahkan beberapa kali, ia sempat mampir ke kosmu menemui kakak angkatannya untuk urusan tugas.
Sekuat apapun kau berusaha tak peduli, kabar lelaki pertama tetap saja mampir ke telingamu dari mulut teman-temanmu atau temannya yang juga temanmu. Itu cukup membuat perasaanmu terdistraksi oleh campuran rasa sakit, dendam, amarah dan kebencianmu dari segala kenangan yang muncul saat melihatnya. Pula, jauh di dalam dirimu, sebenarnya kau menyadari, hatimu tak bisa langsung diisi oleh orang baru saat kau masih terluka. Hatimu butuh tenggat waktu untuk dirangkul dan dimengerti oleh dirimu sendiri.
Lantas, sampailah pada titik kau memutuskan untuk berhenti dari lelaki kedua setelah enam bulan berpacaran. Kau kesulitan menemukan alasan yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan. Diantara kalian tak ada pertengkaran hebat dan cenderung baik-baik saja. Tapi, dirinya tak pernah berada dalam hatimu. Akhirnya, hatimu yang tak bisa dipaksakan menjadi kalimatmu kepadanya yang menegaskan hubungan kalian tak bisa dilanjutkan. Saat kau berpisah dengannya, kau tak mengalami perasaan sakit apapun seperti yang dialami Bayangan Aku yang Berkalang Luka Pengkhianatan.
Benar. Setelah memutuskan hubungan dengannya, aku merasa lega sekaligus bersalah. Lega karena aku tak lagi mesti berpura-pura mencintainya. Dan bersalah karena aku telah menyakiti kebaikan cintanya dengan kepura-puraanku.
Kau tahu? Perasaan bersalah itu membuatmu tetap berusaha untuk bersikap baik kepadanya, meski sebenarnya, kau tak lagi peduli dengan kabarnya. Kau tak pernah mengontaknya lebih dulu. Tapi, segala pesan yang berasal darinya, masih kau balas sewajarnya dan dengan batasan tertentu yang dia sangat pahami untuk tidak melampauinya. Bahkan, kau menyertakan doa tulus untuknya menemukan seseorang yang lebih baik darimu dan mengucapkan selamat ketika ia mengabarkan pernikahannya. Kau benar-benar bahagia untuknya. Berita itu seperti sebuah kompensasi yang membayar lunas rasa bersalahmu.
Dari lelaki kedua ini, kuberitahukan satu pola lagi yang menjadi polamu dalam menjalani hubungan.
Berpisah secara baik-baik ataupun tidak baik-baik, bagimu sama saja. Kau tak akan merepetisi cerita yang serupa. Saat hatimu menyatakan hubungan itu berakhir, artinya benar-benar berakhir dan tidak ada jalan untuk kembali ke belakang. Kau lebih memilih bergerak ke depan untuk menjalani kehidupanmu.
-Vinny Erika Putri, 03.01.21


0 komentar:
Posting Komentar