Have you ever seen your face in a mirror? There's a smile but inside you're just a mess. You feel far from good. Need to hide 'cause they'd never understand.Have you ever this wish? Of being somewhere else to let go of your disguise, all your worries too. And from that moment, you see things clear.
Disguise. Kalimat itu, penggalan lagu disguise yang dinyanyikan Lene Marlin. Lagu itu menelanjangi perasaanmu dengan baik, bukan? Ah, tapi sepertinya bukan hanya dirimu yang pernah mengalami perasaan semacam ini.
Hai, diriku ... mari saling terbuka, jujur dan biarkan jari-jemari menulis mengikuti kata hatimu. Sebagian besar orang menipu dirinya sendiri sepertimu. Semakin keras kepala untuk menunjukkan kekuatan diri disaat rasa lemah kian bergejolak merongrong sejauh mana diri mampu berpura-pura kuat.
Di saat kau kukuh untuk menunjukkan betapa kuatnya dirimu, kau justru semakin kacau. Kau tahu? Disaat-saat seperti itu ... kau bukan membutuhkan teman. Ada yang lebih kau butuhkan dari kehadiran teman. Kau membutuhkan penerimaan diri. Semuanya. Kelemahanmu, kesedihanmu, kemarahanmu. Semuanya. Semua perasaan dan pemikiranmu bahkan sisi terjahatmu sekalipun. Bukan hanya kebaikan dan kekuatan/kelebihanmu.
Kau tak bisa memahami hidup ketika hanya menerima dirimu separuhnya. Kau akan mulai menyangkal takdir. Bahkan menggugat Tuhan. Setelahnya, kau tidak akan bisa merasakan kehadiran Tuhan. Dan ketika kau melupakan Tuhan, kau semakin kehilangan dirimu.
Tak apa kau jujur pada dirimu, mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja", saat kau merasakan tak baik-baik saja. Tak apa bahwa kau kadang berada pada fase tak sanggup meneruskan langkah dan ingin menyerah dengan takdir kehidupan yang harus kau jalani. Terimalah itu. Saat itulah kau akan merasakan, betapa Tuhan begitu nyata kau butuhkan kehadiran-Nya dan hanya satu-satunya yang bisa kau andalkan. Bukan hanya sekadar ritual beribadah, dalil-dalil yang sebatas tekstual, dan fatamorgana kata-kata mutiara tentang Tuhan yang menghibur diri.
Jadi ... kau ingin kembali pada-Nya bukan?
-Vinny Erika Putri, Monolog Diri-


0 komentar:
Posting Komentar