Jumat, 06 September 2013

#1. Kita



Sebelumnya, hanya ada aku, kamu dan dia. Bukan "kita". Meski jadwal kuliah kerap menempatkan aku, kamu dan dia di jam-jam yang sama, semasa itu... tegur sapa hanyalah angin lalu. Cerita-cerita yang tampak adalah kulit luar. Sampai Sang Kuasa mengikat aku, kamu dan dia dengan benang merah kejadian. Bermula dari pengalaman cecap perih yang sama, terlahir ikatan yang  erat mendalam. Aku, kamu dan dia saling merasai keperihan satu dengan yang lain. Satu sama lain merupa cermin bagi yang lainnya. Satu sama lain saling melindungi dan menopang disaat kegetiran memakan ketegaran. Tiga wanita: aku, kamu, dan dia... menjadi "kita".

Sekalipun jarak panjang membentang. Kata "kita" tak lagi kembali menjadi aku, kamu dan dia. Tetap, kata itu adalah "kita". Perasaan itu tiada luntur. Perasaan itu termemori dengan baik dalam kepala. Kugenggam erat-erat, kusimpan baik-baik. Dalam kotak yang dinamai kenangan. Kotak yang tiada pula waktu sanggup melapukkannya. Mengada sepanjang jantungku berdegup.

Kita pernah menangis bersama. Tertawa bersama. Atau, mendadak "gila" bersama dalam satu malam: sebentar-sebentar menangis, lalu tertawa-tawa.

Tangan saling merangkul untuk membagi kekuatan ketika airmata membahasakan perasaan. Bibir mengalirkan kalimat pendek serupa lecut kekuatan, "Bangkit. Kamu pasti bisa."

Dan satu titik peristiwa yang paling kuingat adalah ketika semua kurasakan salah dan menyalahkanku, kalian dalam "kita" menetap disisiku. Itu menjadi hal terindah. Terbaik yang aku punya dari jalinan persahabatan.

Seiring berjalannya waktu, kita tak bisa mengelak dari takdir. Takdir menghadapkan kita pada keputusan pilihan yang melahirkan rentang jarak. Satu per satu dari kita, berhasil menyelesaikan kuliah. Aku, yang lulus lebih dahulu, merasakan betapa beratnya menjadi orang pertama yang harus pergi dari kalian. Aku tak bisa menahan air mata saat harus berpamitan. Namun, kala itu, tak sepatah pun salam perpisahan terucap dari bibirku. Karena memang aku berpamitan bukan untuk sebuah perpisahan.

Kita tak terpisah. Hati kita masih sama. Hati kita masih memiliki ruang memori tempat kenangan-kenangan persahabatan tersimpan. Benang merah itu, diikatkan-Nya untuk kita. Persahabatan dan kita, adalah skenario-Nya yang terbaik. Kugumamkan doa-doa saat kepala menelimpuhi-Nya, "Semoga kata 'kita' tak hanya penggalan kisah yang berlalu seiring rentang jarak. Semoga kata 'kita' tercatat di sepanjang skenarioku, kamu dan dia... hingga titik akhir napas."

Cirebon, 6 September 2013
-Vinny Erika Putri-
Teruntuk sahabatku: Idayu, Kurnia Aprilia

0 komentar:

Posting Komentar