Entah berapa lama Indang terpekur di lincak[1]. Ia melebur bersama sunyi yang sejuk. Matanya menyapu pematang sawah di depannya. Sejauh jala mata memandang, apa-apa dijeratnya.
Seekor
bangau mengirap sembari melengking. Lengkingannya terdengar serupa ratapan. Sebab,
tanah lumpur kering membentang luas. Tak ada mangsa sejenis katak, ikan atau
pun serangga air lainnya.
Seonggok
pohon randu, satu-satunya, tegak berdiri di tengah sesawahan. Dedaunan tampak
jarang menghuni dahan pohon. Kekekeringan telah menyesap hijau dedaunan menjadi
kecoklatan. Beberapa buah kapuk randu menggantung di reranting. Kulitnya yang
hitam sebagian masih mengatup. Sebagian lagi telah rekah
Indang
memaku pandang pada pohon randu. Didapatinya gumpalan putih meletik dari kulit
yang retak. Angin yang berhembus menerbangkannya jauh-jauh. Sedang sisa dedaunan
sekarat. Melayang-layang. Jatuh tertampa tanah kering berserabut. Serabut-serabut
itu bercabang dan membentuk retakan besar di beberapa ujungnya.
Masih
digenggamnya tilas kenangan semasa kecil. Ketika tanah masih gembur berlumpur.
Ia kerap menaiki kerbau yang dipandu ayahnya membajak tanah kala musim tanam.
Diserupainya kerbau itu kuda yang siap berpacu di lintasan balap. Lantas, gelengan
kepala ayahnya menimpali tingkah Indang.
Atau
semasa hijau biji padi mendekati kuning. Acap ia mengusir burung pipit yang
mematuk butir-butir padi. Bersama anak-anak seusianya, berlarian menjejak tanah
sawah. Lainnya, semasa panen. Tanah sawah dipenuhi orang-orang. Setiap jiwa mendulang
gembira.
“Mengenang
masa kecil?”
Suara
Kelana memecahkan lamunan Indang. Lelaki itu telah berada di sebalik
punggungnya. Entah sejak kapan Kelana berdiri di belakangnya. Lelaki itu melangkah
mendekat. Lantas, duduk bersejajar di samping Indang.
“Kemarau
merenggut hijau hamparan sawah dan nyanyian burung-burung. Dari mana kau?”
“Kantor
kepala desa.”
“Kantor
kepala desa?”
“Iya.
Berbincang tentang sedikit hal untuk kelengkapan penelitianku.”
“Sekaligus
berpamitan?”
“Tidak
sekarang atau esok. Mungkin... sebulan lagi.”
Hening
menjelanak. Hati Indang memeram gundah. Bayang kehilangan menyelinap
pelan-pelan.
Tahukah
kau, Lelaki? Kau telah menjadikan pandanganku mendamba padamu.
Pekikan
burung pipit mencabik hening. Didapatinya alap-alap mengigit kepala burung
pipit hingga meregang nyawa. Kematian burung pipit menyadarkan Kelana akan
waktu.
“Kita
pulang sekarang. Senja akan segera pudar.”
Kelana
bangkit dari lincak. Ia mengulurkan
tangan kanannya ke arah Indang. Indang terperangah. Kepalanya mendongak. Matanya
mencari kesungguhan pada sepasang mata elang milik Kelana. Pandangan lembut yang tercipta di sana bersama anggukan.
Adakah
debar yang sama di sebalik hatimu, Lelaki?
Debar
memaksa Indang mengambil jalan berlawanan. Batinnya menggeleng. Namun,
tangannya pasrah ketika tangan Kelana menariknya. Jemari tangan bergenggaman. Indang
menunduk.
Kebisuan
mengepung selama sepasang punggung berjalan. Dirasai Indang, keramaian yang
muncul tiba-tiba memutuskan genggaman. Kebingungan meringkus hatinya.
*
Rumah
menyambut mereka dengan kelengangan dan aroma singkong tanak. Kelana memasuki
kamarnya. Sedang aroma yang berasal dari tungku pawon[2]
menyeret Indang ke sana. Ia sembunyikan hatinya yang tak keruan.
Lelaki
itu... benar-benar tak kumengerti. Aku terkepung tanya. Apa isi kepalamu.
Tungku
pawon lama tak mengepulkan aroma
beras. Sepanjang kemarau membelit, ubi-ubian jenis singkong yang ditanam di
pekarangan mengisi perut orang-orang Plana. Para-para[3]
mengeringkan ubi-ubian sebelum ditanak menjadi nasi tiwul.
“Saking pundi sampean, Nduk?[4]”
“Saking sawah, Mbok.[5]”
“Cepat
mandi. Waktu magrib hampir tiba.”
“Iya,
Mbok.”
*
Kemarau panjang membangkitkan ritual
lama yang tertidur. Tiga hari sudah Indang melakukan rialat[6]
bersama calon peraga lainnya. Berpuasa adalah rialat yang Indang pilih sebelum melakukan ritual
selanjutnya.
“Siapa
yang akan melakukan pencurian irus[7],
Nduk?” tanya Mbok Dar, ibu Indang,
sembari menyiduk nasi tiwul ke piring Indang.
“Siti,
Mbok,” jawab Indang.
Daun
telinga Kelana menegak mendengar kata pencurian. Dorongan keingin-tahuan
melesatkan tanya, “Mengapa harus dengan mencuri?”
“Anjuran
yang ditemurunkan tetua adat, Nak Kelana,” sahut Mbok Dar.
“Rumah
siapa yang akan menjadi sasaran, Bu?”
“Rumah
Mbok Mar. Janda beranak satu.”
“Maaf
atas kelancangan saya. Bagaimana dengan orang yang irusnya tercuri?”
“Tidak
apa-apa, Nak. Soal irus yang tercuri,
Mbok Mar akan paham dengan sendirinya.”
Siti
akan bergerak ketika matahari menggarang di atas kepala. Mengendap-ngendap masuk
ke dalam rumah Mbok Mar. Kala itu rumah sepi penghuhi. Penghuninya tengah
meraup rupiah dari singkong-singkong mentah. Rumah Mbok Mar memiliki dua
jendela persis di bawah pompok[8].
Rumah yang memenuhi syarat dalam ritual pencurian irus.
“Nak
Kelana, nanti ikut menyaksikan ritual cowongan, kan?”
“Iya,
Bu. Saya ingin melihat ritual ini sampai selesai.”
“Kamu
juga, Nduk. Persiapkan dirimu dengan
baik.”
Indang
mengangguk. Mulutnya masih mengunyah nasi tiwul. Kelana diam-diam mencuri
pandang. Sesekali tertangkap basah oleh Indang. Mata mereka beradu. Menambah
desir yang berdenyut-denyut di dada Indang. Jengah meningkahi degup.
Telah
dikenalnya Kelana dalam hitungan tiga bulan. Lelaki itu mengajarinya jendela
luar. Rupa-rupa ilmu. Keberadaannya pelan-pelan memekarkan kuncup merah mawar
di hatinya.
Lelaki
itu mahir menjelma bermacam kegembiraan. Mengubah kebosanan menjadi tetawa.
Menyairkan puisi yang membiusnya dalam kekaguman. Menawarkan waktu untuk
meringankan keluh kesah.
Lainnya,
kadang-kadang ia mendapati lelaki itu mewujud misteri. Tak jarang sunyi
melarutkannya dalam kamar. Bersama buku-buku dan lekuk tinta. Atau mendiamkan
Indang tanpa sebab.
Kerap
Indang rebah dengan hati resah di tengah malam. Bayangannya tertempeli Kelana
penuh-penuh. Lalu, batas entah mencabik-cabik angannya. Ia ketakutan. Pada
harapan yang terlampau melambung tinggi. Sebab, seringkali isi kepala lelaki
itu tak mudah tertebak.
Indah
masihlah berpoles keluguan. Sedang Kelana? Usia lebih dulu mematangkan Kelana.
Mereka berjarak lima. Indang tujuh belas. Kelana dua puluh dua.
*
Malam Jum’at kliwon. Malam pengarak
ritual. Di tempat perhelatan ritual, sesepuh desa tengah merias irus. Irus hasil curian itu, sebelumnya
telah ditancapkan di pelepah pohon pisang raja. Terhitung selama tujuh hari.
Kepala
irus dihiasi rumbai-rumbai dari sapu
ijuk. Bagian wajah dirias dengan parem dan kunir apu. Kemudian kukusan, kayu
dan bambu dirangkai menyerupai orang-orangan sawah. Orang-orang Plana
menyebutnya dengan boneka cowongan.
Di
halaman rumah tetua adat, beberapa pemuda tengah membersihkan seperangkat
gamelan. Sedang warga desa lainnya bersegera membongkar seluruh rangken[9]
yang sudah rusak di lingkungan kampung dan sawah.
“Rangken rusak akan menjadi salah satu
penghalang turunnya hujan,” petuah tetua adat Desa Plana.
Gelap
tak menyurutkan langkah para pembawa rangken.
Cahaya obor menemani mereka mengumpulkan bilah-bilah rangken rusak di samping lahan pekuburan. Tanah samping pekuburan
merah benderang. Lalu kembali gelap seiring
rangken menjadi butir-butir abu.
Malam
merambat naik. Lajunya tak sebanding dengan sunyi. Waktu menunjukkan pukul sembilan
malam. Pelataran rumah tetua adat kian ramai. Padat dengan manusia. Tua-muda,
lelaki-perempuan, berjejalan.
Dari
lautan manusia yang ada, tak didapati busana merah membalut tubuh mereka. Mereka
percaya. Bahwa merah mengundang murka para arwah.
*
Segala telah siap untuk kelangsungan
ritual. Para peraga keluar diiringi belasan wanita dan lelaki paroh baya. Mereka
memegang tali stagen yang diikatkan boneka cowongan. Peraga adalah tiga
perempuan suci yang tak sedang kedapatan bulan merah. Pun tak bersenggama
selama persiapan ritual.
Aroma dupa dan kemenyan mengudara.
Boneka cowongan bergerak meliuk-liuk. Liukannya mengikuti kepulan asap dupa dan
kemenyan. Tetabuhan gamelan dan tembang jawa mengiringi tarian boneka cowongan.
Tetua adat merapal mantra permohonan.
Cowong-cowong
penentang, penintange tali gandek, gandek mandek-mandek, midondangi jaluk
pitulung marang Nyi Ratu, kanggo njaluk udan, ayuh gagiyan reg-regan rog-rogan
Liukan
para peraga semakin tak keruan. Gerakannya menguji seberapa kuat kendali para peraga
terhadap dirinya. Boneka cowongan membelah kerumunan. Bergerak kesana kemari. Keringat
mengucur dari kening mulus para peraga. Menyiratkan tenaga mereka cukup
terkuras dalam ritual ini.
Semalam-malam
tembang dan mantra digelar. Namun, lesat cerambuk petir tak juga berpendar.
Gemuruh guntur tak juga terdengar. Rembulan dan gemintang sama sekali tak
memusuhi langit.
*
Ritual semalam tak berhasil membuat
langit memuntahkan hujan. Sepagi-pagi Kelana menghirup udara, keluh-kesah
bertebaran. Pula didapatinya wajah-wajah yang lalu lalang menyuguhkan
kemasaman.
Namun,
sekalipun kemasaman menyergap orang-orang Plana. Mentari tak pernah kehilangan kehangatannya.
Pun Kelana. Hatinya tengah menghangat. Kelana melamunkan Indang pagi ini.
Betapa tirai kecantikannya tersibak bersama gemulai tarian semalam.
Lamunan
mengurai gelora. Lesap seketika seiring kedatangan Indang. Ia membawa sekotak
nampan berisi singkong rebus dan teh hangat. Selasar rumah menyaksikan
perbincangan dua bibir.
“Hari
ini kulihat kekecewaan di mana-mana.”
Diletakkannya
nampan itu di meja sembari berkata, “Tanah yang tak juga basah membuat mereka begitu.”
Indang duduk bersikuan dengan Kelana. Hati Indang rusuh bergejolak. Rusuh
menghalau wajahnya dari tatapan mata Kelana.
Kelana
mengail ingatan. Lepas ritual semalam, jala pandangnya mendapati boneka
cowongan masih berada di rumah tetua adat.
“Untuk
apa boneka cowongan itu disimpan?”
“Masih
ada pengulangan ritual.”
“Seberapa
banyak pengulangan?”
“Sampai
hujan turun.”
“Boneka
cowongan itu?”
“Bila
hujan tak juga datang hingga tujuh kali pengulangan, boneka cowongan harus
diganti dengan boneka yang baru.”
“Kau
tahu? Harapku adalah hujan tak datang. Aku masih ingin melihatmu menari.
Seperti semalam. Sebelum tenggang waktuku habis.”
Jantung
Indang berdegup kencang. Ia merentak
berdiri dan hendak kembali ke dalam rumah. Namun, sepi memberanikan Kelana
menarik tangannya. Pandangan mata Kelana menghunus hatinya dalam-dalam.
“Semalam....
kau cantik. Sangat.”
Mendadak
ia kehilangan kata-kata. Indang ingin raib. Saat itu juga.
*
Para peraga duduk memutar. Mengepung
nasi berpucuk kerucut. Doa-doa serupa mantra tolak bala mengudara. Keriangan memenuhi
kepala orang-orang Plana. Tetas sudah tiga kali pengulangan ritual. Malam Jum’at
ketiga. Tanah basah. Langit gelap mengucurkan kilau air.
Pesta
pora membunuh lelap berpasang-pasang mata. Bermacam makanan menjadi karib
berkumpul mereka. Kemudian, tengah harinya, iring-iringan berjalan menuju
sungai Serayu. Boneka cowongan akan dilarungkan. Penanda akhir dari ritual. Sepanjang
pelarungan, banyak bibir menggumam doa-doa.
“Apa
yang kau harapkan dari pelarungan boneka cowongan itu?”
“Seperti
penduduk lainnya. Pelarungan tanda pelenyapan sengkala.”
“Bagiku,
hujan dan pelarungan boneka cowongan pertanda habisnya masa singgahku.”
Sesak
mencekik Indang. Hatinya tertikam sembilu. Disadarinya kepergian akan
menyisakan kehilangan. Batinnya menjeritkan pinta jangan kepada Kelana.
“Kau
memuakkan.”
“Aku
mencintaimu benar-benar.”
“Apa
yang bisa kupercaya dari kata-kata?”
“Janji
akan membawaku menjemputmu.”
*
Jejaring pandang Indang tebar ke
langit-langit. Kelindan pikirnya melentingkan resah di tengah rebah. Resah yang
kian tinggi menjauhkannya dari pembaringan. Ia melangkah menuju tepian jendela.
Kaca jendela mengembun. Keburaman terlukis di sana. Beberapa biji air merayap
turun. Membentuk segaris lurus.
Kini Indang mengerti. Pada jarak dan
waktu yang mengajarkan rindu. Betapa penantian sedemikian menyiksanya. Ia
menelan entah untuk suatu jamuan temu.
Lelaki,
adakah kau mengerti dera siksa penantian? Kumenahan perih nanar.
Indang
menelimpuhi sesal. Betapa mabuk damba membutatulikan mata hati. Kini, ia
beroleh pemahaman, sesal selalu menang meski berada di urutan terakhir. Sesal
melahirkan keinginan untuk berubah dengan mengulang waktu. Seperti sekarang, saat
kepalanya menggali ingatan. Yang membekas sepanjang degup jantung.
Pada
persiapan ritual pertama, Kelana mencuri waktu. Sebelum Indang menari bersama
tembang dan mantra, Kelana mengajak Indang dalam gelap. Masih diingatnya, bibir
Kelana mengecap di bibirnya. Sedang tangan Kelana mengajarkan rabaan. Perlahan,
peluh dan lenguh yang lirih mengenyahkan batas sadar. Getar menggelinjang.
Terlahir getir.
Sejak itu, Indang kerap
menyembunyikan mual. Nanas muda acap melewati tenggorokannya. Lompatan-lompatan
keras merutinkan hari-harinya. Berharap-harap keluarnya leleran darah.
Lelaki...
aku ditikam ketakutan. Kau tak berkabar.
Hujan
turun bersama bulan yang tak lagi memerah. Perawan Indang telah pecah. Kaca
terlahir di sepasang matanya. Jatuh tertampa lantai.
*
Cerpen ini masuk dalam 5 nominasi pemenang unggulan LMCOA (Lomba Menulis Cerpen Obor Award)
[1]
Bangku panjang dari bambu
[2] Dapur
[3] Anyaman
bambu untuk meletakkan perkakas atau menjemur makanan
[4] Dari
mana kamu, Nak?
[5] Dari
sawah, Mbok.
[6]
Mengurangi makan dan tidur
[7]
Alat masak yang terbuat dari tempurung kelapa
[8]
Perpotongan segitiga atap rumah
[9] Kerangka
atap yang terbuat dari bambu


0 komentar:
Posting Komentar