Jumat, 13 Januari 2023

#10. Surat Untuk Diriku Tentang Berita Hari Ini



Hai, Vinny Erika Putri.
Mengawali dialog kita di tahun 2023, aku ingin menanyakan bagaimana kabarmu? Aku tak bisa menerka dengan tepat samar perasaanmu. Hanya saja, aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu. Apakah kau tengah berlindung dan menyembunyikan diri di ruang sunyi tempatmu menyembuhkan luka-luka seperti tahun-tahun terberat yang pernah kau alami?
Kabarku? Entahlah. Kau tahu? Aku memulai kembali suatu perjalanan dimana aku membuang kepercayaan yang kupunya pada orang-orang yang sungguh-sungguh kupercayai. Suatu perjalanan dimana aku hanya melihat diriku sendiri sebagai satu-satunya manusia yang bisa kupercayai untuk membersamai hidupku tanpa batas waktu.

Hai, Vinny Erika Putri.
Apakah kau tengah mengalami kekecewaan atau rasa sakit karena kepercayaanmu dihancurkan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh kau percayai? Seperti peristiwa berkesudah yang beberapa kali terjadi dalam hidupmu?
Kekecewaan? Semestinya, sejak aku memutuskan untuk menjadi manusia tanpa ekspektasi dan keinginan, kekecewaan adalah hal yang remeh bagiku bukan? Jikapun aku pernah merasakan kekecewaan, mungkin karena aku sempat menginginkan sesuatu dan meletakkan ekspekstasi yang tinggi terhadapnya. Lagipula, aku juga berterima kasih pada setiap kekecewaan yang hadir. Kekecewaan, selalu berujung mengingatkanku pada kisah manusia tanpa ekspektasi dan keinginan.
Lantas, soal rasa sakit? Jikapun, rasa sakit sempat kurasakan, bersyukurlah aku, artinya, aku masih menjadi manusia berperasaan. Lagipula, aliran rasa sakit selalu bermuara pada ritual memaafkan diri sendiri untuk kemudian aku bertumbuh dan bertransformasi darinya.

Hai, Vinny Erika Putri.
Jika kau tak ada lagi orang-orang yang bisa kau percayai, apakah kau benar-benar bisa menjalankan hari-harimu dengan ringan? Apakah hidupmu tidak akan menjadi lebih berat?
Berat? Tidak. Justru aku sedang memperingan apa yang kupikul selama menjalani hidup. Tidak mempercayai orang-orang, memudahkanku menjalankan proses pelepasan. 
Ya. Pelepasan atas apa yang selama ini kuyakini sebagai tanggung jawab hidup. Pelepasan atas apa yang kugenggam dan kuanggap sebagai takdir kepemilikan. Pelepasan atas keterikatan diri pada sesuatu yang fana.

Hai, Vinny Erika Putri.
Dengan menjalani hidup yang semacam itu, bukankah kau nantinya akan merasakan kekosongan yang panjang dalam kesendirian? Hidup akan memberimu kehidupanmu yang lebih dingin dari suhu terdingin di sudut bumi terdingin.
Tidak. Aku tetap merasakan nadi kehidupanku berdenyut dalam kesendirian. Rasa sakit atas semua peristiwa yang pernah kualami, mengajariku satu dari sekian banyak hal yang kuterima dan tertanam kuat dalam diriku. Kesendirian adalah obat penawar. Kesendirian, membawaku menemukan ruang sunyi. Dalam ruang sunyi, aku beroleh pemahaman bahwa diriku sendirilah satu-satunya manusia yang melihat, mengamati, dan merasakan bagaimana jiwaku hancur lebur, remuk redam, sekarat nyaris mati oleh banyak peristiwa yang ditimbulkan orang-orang terhadapku ... sampai semesta sendirilah yang memutuskan untuk jiwaku mati atau tetap hidup dengan cara yang kupilih.
Dengan membuang kepercayaanku pada orang-orang, aku lebih bisa melihat, mengamati dan merasakan bagaimana cara semesta membawa batinku memandang Tuhan. Pula merasakan bagaimana Tuhan menolongku ditengah-tengah kehancuran yang bersiap-siap membunuh jiwaku.  
Aku, ingin melihat, mengamati dan merasakan bagaimana Tuhan membuat hidupku lebih hangat ketika aku tak lagi memiliki kepercayaan pada orang-orang dan menjadikan-Nya satu-satunya tempatku bergantung.

 

-Vinny Erika Putri, 13.01.23

0 komentar:

Posting Komentar