Tentang Melambat.
Kata kebanyakan orang, "Itu suatu kemunduran."
Benarkah?
Dulu, aku mengiyakan.
Sekarang?
Tidak lagi memberikan justifikasi semacam itu.
Tentang melambat.
Dulu, ketika masih menjadi bagian dari "kubu" pro percepatan, aku melihat orang-orang yang melambat dengan pertanyaan sejenis ini: "Mengapa mereka lambat dalam mengenali situasi-kondisi sekitar? Mengapa mereka tidak bisa memberikan penanganan yang cepat-tepat-efektif-efisien-asertif dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang terjadi?"
Aku, seperti masih belum bisa menolerir perlambatan meski aku sudah paham arti dari kalimat "Setiap orang memiliki waktunya sendiri dalam pertumbuhannya, tidak cepat, tidak pula lambat."
Kalimat itu hanya berhenti di kata "paham", belum kuresapi menjadi sesuatu yang menadi dalam akal pikiran-jiwa-hati-lelaku. Kalimat itu hanya sekadar jargon omong kosong yang terekam di memori kepala.
Tentang melambat.
Aku, "Vinny Erika Putri", hampir 36 tahun hidup didalam sebuah dunia pemikiran sesosok wanita yang "tidak umum" dibandingkan wanita seusianya atau bahkan wanita kebanyakan. Aku, yang tidak umum, dewasa lebih cepat dan matang lebih dulu, sepertinya tengah berada di titik lelah. Lelah melihat segala percepatan di era teknologi yang semakin gila mengobrak-abrik ketenangan hidup. Lelah, melihat orang-orang melakukan percepatan dengan cara yang sangat serampangan. Atau mungkin, justru akulah yang sedang melelah untuk selalu bergegas menjadi yang tercepat sendiri (dan sendirian) dalam pertumbuhan apapun?
Tentang melambat.
Di rentang 3 tahun terakhir, aku menjadi individu yang banyak mempertanyakan tentang percepatan-percepatan yang sudah kulakukan dalam hidup. Putaran roda kehidupan di 3 tahun terakhir banyak menghantam mental-psikisku lebih keras dari tahun-tahun sebelumnya dan nyaris mengikis segala ambisi yang kupunya.
Bahkan, keadaan ini, membawaku bertanya kepada diri sendiri soal ekspektasi dan keinginan diri serta kehendak-Nya terhadap hidupku. Perenungan tersebut melahirkan dialog diri yang dituangkan dalam sebuah tulisan berjudul Manusia Tanpa Ekspekstasi dan Keinginan.
Tentang melambat.
Kini, persepsiku telah banyak mengalami perubahan-bersintesa-terintegrasi dengan makna yang ku-renung-resap-laku-i dari setiap peristiwa yang terjadi didalam hidupku.
Melambat sejenak di dunia serba cepat terkadang memang perlu. Dengan melambat, aku menjadi lebih bisa mengamati apa yang selama ini luput dari pengamatan dan perhatianku. Satu contoh kecil, soal bernapas.
Disaat melambat, aku menjadi lebih sadar bagaimana ritme napasku sendiri. Apakah aku sudah mulai terengah-engah seperti nyaris kehabisan napas dalam menghadapi hidupku atau masih dalam kondisi yang tenang menerima segala qodo dan qodar-Nya.
Kesadaran kecil tersebut perlahan-lahan menyebar luas menjadi kesadaran yang lebih besar seperti kesadaran batin dalam menyadari alur algoritma berpikir, spektrum jiwa (mental-psikis), pergerakan perasaan dan situasi-kondisi sekitar diri yang sedang berlangsung sehingga membuatku mampu melihat banyak hal yang terpancar baik di dunia internalku maupun dunia eksternalku dengan lebih jeli-jelas-jernih-netral dari segala sisi/sudut pandang.
Tentang melambat.
Melambat, bukanlah suatu kemunduran. Melambat, adalah bagian dari progres memaknai hidup dan denyut nadi alam semesta dengan lebih tenang dan damai.
Jadi, tak apa ... jika kita merasa sedang dalam fase melambat. Siapa tahu kita bisa melihat keindahan yang tak sempat teramati disaat kita terlalu sibuk dengan segala macam percepatan. Sebab, melambat pun, bagian dari seni menemukan warna hidup.
-Vinny Erika Putri, 14.08.22


0 komentar:
Posting Komentar