07.12.20
Hari itu, pukul 13.00, adalah giliran Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang menghadiri yudisium. Pelaksanaan yudisium saat itu, menjadi sesuatu yang biasa saja bagiku karena sebelumnya aku sudah pernah melaksanakannya saat aku menempuh program sarjana dengan bidang studi teknik sipil di Universitas Jenderal Soedirman. Sampai dengan tiba pembacaan 5 lulusan terbaik dari kedua program studi tersebut. Entah mengapa ada debar yang bertalu-talu mengetuk dadaku. Peringkat lima besar mulai dibacakan hingga peringkat kedua. Aku semakin tak keruan.
"Peringkat terbaik pertama Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Institut Agama Islam Bunga Bangsa diraih oleh .... mari kita tunggu setelah pesan-pesan berikut," canda, Bapak Drs. Sulaiman, wakil rektor 1 lantas melanjutkan kembali perkataannya, "Peringkat terbaik pertama diraih oleh Vinny Erika Putri, S.Pd."
Sesuatu kurasakan meledak tanpa suara di dalam dadaku. Aku berjalan dengan kepala agak tertunduk. Hati tertatih-tatih memaknai semua dari kilas balik perjuangan di tempat ini yang berkelebat sepanjang langkahku mengayun.
Sampai di depan, aku berdiri sejajar dengan lima lulusan terbaik lainnya dari Prodi PIAUD. Satu per satu dari kami berlima menerima piagam penghargaan dan cinderamata dari kampus. Kameramen kampus mendokumentasikan kami. Aku mendapatkan giliran pertama untuk maju menerima piagam dan cinderamata tersebut. Lalu mundur kembali ke barisan sembari menunggu yang lainnya selesai menerima penghargaan. Saat prosesi itu berlangsung, Pak Rektor, yang duduk di belakang kami, di jejeran kursi petinggi kampus, memanggil namaku hingga membuatku menoleh ke belakang.
"Vin ... selamat ya," ucap beliau.
Aku, masih dengan kekagetan yang belum sepenuhnya reda, tersenyum lalu mengangguk halus sebagai bentuk penghormatan sembari mengucapkan terima kasih kepada beliau.
Setelah acara prosesi itu selesai, kami kembali ke bangku masing-masing dengan membawa piagam penghargaan dan cendramata. Aku masih saja tergeragap dengan apa yang baru saja kuterima. Usai acara yudisium, ucapan selamat pun berdatangan dari kolega kampus hingga rekan kerja.
Lantas, saat pulang, aku pun dijemput bapak. Sahabatku, yang kuajak ikut bersamaku menumpang dalam mobil karena jalur mereka menuju terminal searah, memberitahukan soal predikat lulusan terbaik Prodi PIAUD yang kusandang.
Respon bapak, tidak begitu kaget. Bagi beliau, begitulah aku, toh sebelumnya aku sudah pernah berkuliah. Semasa SMA, beliau pun tahu anaknya masuk dalam peringkat 1-5 besar. Kurasa, beliau saat itu, membanggakanku sebagai anak dengan porsi yang wajar. Tidak melebih-lebihkan seperti yang kadang-kadang beliau lakukan saat menceritakan prestasiku kepada orang-orang.
Sesampainya di rumah, aku pun bercerita pada ibu tentang segala prosesi yang kulalui saat yudisium siang tadi. Dan menunjukkan piagam yang kudapatkan. Aku melihat kebanggaan di mata ibu. Pun, bapak, baru menampakkannya saat kita sudah berada di rumah.
Lalu ... setelah usai dengan itu semua, malam itu menjadi malam perenunganku atas sesuatu yang tak kuduga sama sekali. Aku berdialog dengan diriku sendiri dalam hening malam.
Hai, diriku, apa yang kau rasakan saat ini? Harukah? Banggakah? Sedihkah?
Aku ... merasa terharu. Terharu, sebab, dengan begitu banyak perjuangan yang kulakukan, tak kukira hasil yang kudapatkan diluar dugaan. Allah memberikan lebih dari apa yang kuharapkan. Dan, aku mengiyakan, bahwa ketika kita telah memancangkan tekad, menetapkan tujuan, mengerjakan dengan fokus dan tekun, bersetia dengan proses, tak jemu-jemu mengevaluasi hasil dan tak menyerahkan diri pada apa yang dinamai kesulitan ... Allah akan membayarnya dengan sesuatu yang tak kubayangkan sama sekali.
Aku ... merasa bangga. Bangga membanggakan perjuangan diriku yang telah mendapatkan pencapaian inikah? Bukan sama sekali. Kebanggaanku tak berpusat pada diriku. Aku bangga, bisa membuat orang tuaku merasa bangga. Aku bangga, bahwa dengan prinsipku tentang membantu orang lain untuk sama-sama tumbuh berkembang tak mengurangi nilaiku sedikit pun.
Sekaligus aku ... merasa sedih. Aku tak bisa menunjukkan ini kepada Almarhumah simbah putri. Dan betapa aku merindukan beliau hadir di momen-momen seperti ini.
Benarkah hanya itu yang kaurasakan? Apakah kau begitu terlarut dalam gegap gempita suasana itu? Adakah yang lebih berkilau dari itu? Kau tahu bukan, bahwa perasaan yang tengah memenuhi dadamu, semua itu hanyalah keduniawian yang sifatnya sementara?
Entahlah. Ada sesuatu yang kurasai kosong dalam ruang batinku. Kehadiran penyakit hati mulai teraba saat kebanggaan mulai masuk melebihi batas kewajaran. Dan aku, mulai merasakan ketidaknyamanan. Aku ingin kembali mengnolkan itu semua.
Kemudian, apa yang bisa membuat batinmu terasa penuh terisi?
Dialah, Sang Maha Kuasa yang memampukan apa yang dulu terasa sulit dan berat bagiku. Dialah, Sang Maha Perkasa, yang menguatkanku bahkan disaat aku tak mempercayai diriku sendiri. Dialah, Sang Maha Penyayang, yang selalu menemani saat aku merasa sendirian menjalani masa-masa sulit itu. Dialah yang meringankan segalanya. Dialah, Sang Pencipta, satu-satunya tempatku bersandar dan bergantung.Kupandangai lekat-lekat, piagam penghargaan yang ada di hadapanku. Jika ucapan selamat dari keluarga, sahabat dan para kolega yang berdatangan tak mengisi kekosongan batinku ... maka, yang mesti kupahami adalah hatiku tengah memaknai pujian yang sesungguhnya. Pujian yang sifatnya kekal abadi. Bukan hanya euforia semata. Maka predikat DENGAN PUJIAN kulanjutkan dengan kalimat KEPADANYALAH KUKEMBALIKAN SEGALA PUJIAN.
Sunyi malam itu ... terasa hidup, menyala dan hangat.
-Vinny Erika Putri, 13.12.20


0 komentar:
Posting Komentar