Kau melihat dirimu, menerobos isi kepalamu dan tenggelam dalam perasaanmu. Lalu, kau dapati di sana benang-benang masalah yang masai. Hingga menyentuh titik terparah, kau bisa terhempas ke sebuah lubang persembunyian yang dalam, gelap dan tidak ingin sesiapapun melihatmu atau besertamu.
Sekali waktu, kau menangis sejadinya. Tangisan yang tak terdengar bising di luar tapi bergemuruh di pelataran sunyi. Oversensitif? Sentimental? Berlebihan? Mungkin, orang-orang yang tak mengenalimu dengan baik berkata begitu. Tak apa. Tak penting. Karena memang tak semua orang bisa memahami itu, dan tidak pula kau harus menuntut untuk dipahami. Setiap orang punya sudut pandang yang berbeda soal masalah. Setiap orang punya caranya sendiri untuk berdamai dengan keadaan dan keluar dari masalah. Termasuk, kau.
Kau kerap berdamai dengan dirimu sendiri melalui “rasa sakit”. Dan kerapkali terasa bertumpang-tindih, antara kepunyaanmu sendiri dan sekelilingmu. Ya. Bertumpang tindih. Dalam lautan kepedihan, kau banyak melihat dan mendengar kepedihan-kepedihan lain. Yang lebih pedih. Yang lebih mendaras air matamu.
Terkadang, kau mendapati hidupmu ironi. Atau mungkin sebuah paradoksal rasa. Kau hidup melalui masalah orang-orang. Kau bercermin dari kepedihan orang-orang untuk bisa menguatkanmu berdamai dengan keadaan dan memenangkan rasa syukur atas takdirmu sendiri.
Kau tahu? Apapun itu, entah ironi atau paradoksal hidup, ada gema suara yang harus kau pegang kuat-kuat: Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk menguatkanmu. Ia menghadirkan kepedihan-kepedihan orang lain untuk mengecilkan masalahmu. Ia membawakan masalah-masalah orang lain padamu untuk memberimu banyak sudut pandang hingga kau bisa mengurai kekusutanmu itu dengan sabar.
Sampai akhirnya, kau katakan sesuatu pada dirimu sendiri di suatu malam, “Terkadang, dari kepedihan orang-orang, terlahir rasa syukur terhadap situasi kondisi diri sendiri.”
-V.E.P, Refleksi Seorang Aku dalam Sunyi
-V.E.P, Refleksi Seorang Aku dalam Sunyi


0 komentar:
Posting Komentar