Menyenangkan. Sekalipun ada kejengkelan-kejengkelan saat membersamai mereka, tetap tak mengubah kata itu: menyenangkan. Karena, saat tak ada mereka di sisi kita, kejengkelan-kejengkelan itu menjadi sesuatu yang dirindukan.
Anak-anak?
Anak-anak?
Meskipun kita bisa bermain bersama-sama mereka ... ada bagian dunia yang tetap menjadi milik mereka. Dunia yang tidak bisa orang dewasa masuki sepenuhnya. Mungkin, kita hanya melihatnya di ambang pintu atau berada di sekitarnya tanpa bisa meraih dunia mereka, sekalipun kita telah membuat diri kita menjadi kekanakkan. Mengapa? Karena dunia kita adalah dunia orang dewasa. Tapi, setidaknya, kesediaan kita meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka, memahami mereka dan memberikan mereka kasih sayang tulus... telah membuat mereka menempatkan kita dalam dunianya, dalam kepalanya.
Anak-anak?
Anak-anak?
Setiap babak yang mereka lewati, semuanya mampu melemparkan ingatan kita pada fase-fase yang melahirkan kerinduan. Ketika mereka masih begitu bergantung pada kita, betapa kita merasakan keberadaan kita sangat berarti dan begitu penting. Ketika mereka mulai tumbuh dewasa, betapa kita merasakan, ada air mata dan tumbukan-tumbukan emosi yang entah berapa banyak bergulir dalam perjuangan membersamai mereka.
Anak-anak?
Anak-anak?
Mereka alasan orang tua untuk tidak menyerah menghadapi hidup yang tak selalu manis. Mereka satu paket yang mengharuskan para orang tua mengambilnya sekaligus: air mata dan tawa.
Anak-anak?
Anak-anak?
Terlahir dari rahim seorang wanita ataupun tidak, wanita yang tulus menyanyanginya akan berterima kasih. Karena merekalah yang mendewasakannya. Karena merekalah yang mengajarinya banyak hal. Karena merekalah hidupnya menjadi bermakna. Karena merekalah keberadaan dirinya menjadi berharga dan penting.
Anak-anak?
Anak-anak?
Terima kasih, untuk waktu 4,5 tahun. Waktu yang berharga. Dan menjadi kotak ingatan yang kusimpan dan kujaga baik-baik.
Anak-anak?
Anak-anak?
Aku tidak bisa berhenti untuk memahami dunia kalian. Daya tarik kalian terlalu kuat untukku menjauh. Meski tak lagi di atap yang sama, langit kita tetaplah sama.
Anak-anak?
Anak-anak?
Aku tak bisa lagi berkata-kata. Mataku terasa memanas. Seperti ada yang akan jatuh. Sebelum luas merebak lalu menyudut di ujung mata, kututup. Pergi merebahkan diri.
VEP, Cirebon, Dini Hari, 190717


0 komentar:
Posting Komentar