Degupnya tak lagi mengada. Perempuan itu sudah cukup lama hidup dengan bergantung pada degup lain di jantungnya.
Dahulu, degup itu terasa begitu manis merekah. Keberadaanya beriringan dengan ketukan-ketukan rindu di dada. Ketukan rindu yang perlahan menjelma bayangan lelakinya. Ya. Hanya bayang. Kala itu, pekerjaan lelakinya menempatkan mereka pada keterpisahan dimensi ruang dan jarak.
Itu dulu. Setahun silam. Sebelum yang dinamai kekasih, menikmati dan melumat gincu lain yang sehadapan raga lalu menyisakan sembilu di hatinya.
Kini, degupan itu,
tak ubahnya siksaan bagi sang perempuan. Setiap lenting degupnya bagaikan cemeti yang dicambukkan berulang kali. Menera luka lebam hingga mengalirkan darah. Memaksanya kembali mencari
degupnya sendiri.
-Vinny Erika Putri, 30.10.12.


0 komentar:
Posting Komentar